Categories

Selasa, 24 Juli 2012

Sama-Sama Ngondek


‘Tampaknya semua sudah berkumpul di aula.’ Batinku. Kulirik jam di pergelangan tangan. 17.45 WIB. Pantas saja, aku kan sudah terlambat lima belas menit. Segera aku bergerak menuju tempat parkir sepeda.
Sengaja aku datang ke sekolah sore ini sebab malam nanti aku yang merupakan calon anggota OSIS SMP Purnama dan calon lainnya akan mengikuti kegiatan “Jalan Malam”.

“Yakni tahap kedua penyeleksian calon anggota OSIS SMP Purnama sehingga nantinya didapatkan anggota-anggota OSIS baru yang memiliki keberanian baja.” Terang Kak Toni, Si Ketua OSIS yang gagah tadi pagi.
Kabarnya, di kegiatan Jalan Malam nanti akan ada beberapa hantu palsu yang sebenarnya adalah Kakak-kakak OSIS. Maka dari itu aku tidak takut. Apalagi ini kan sudah menjadi cita-citaku sejak SD–menjadi anggota OSIS SMP Purnama seperti Kakakku, Kak Wahyu
            “Jyalan malam nanti akan dibagi menjyadi dua pyuluh pelepasan kelompok. Jyadi, setiap pelepasan adya tiga peserta. Kyalian akan mengelilingi sekolah syendiri-syendiri. Syapa yang ketahuan bersyama-syama akan langsung didiskualifikasi. Tyapi tenang syaja, di setiap jalur hanya ada satu hantyu.” Terang Luca, sekretaris OSIS cowok tapi super lebay banci habis. Kadang aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi OSIS ya? Bahkan menjadi sekretaris.
            “Heh Cyika, kamyu terlambat!” tiba-tiba kudengar panggilan dari arah belakang. Ya ampun, setelah aku melirik, ternyata dia Luca. Aku tidak peduli, kulanjutkan tugasku memarkirkan sepeda.
            “Kok diam syaja sih, Cyik?”
            “Terus aku mesti ngapain? Minta maaf gitu?” aku hendak berlalu, tapi tanganku keburu diraihnya. Dia hanya menatapku lekat. Apa-an ini?

*
‘Mimpi apa aku semalam? Baru sampai di sekolah langsung disambut sama dedemit bimbang. Aduh, pasti tanganku kena virusnya makanya jadi gatal begini.’ Kesalku sembari menggaruk-garuk lengan. Aku memang jijik sekali dengannya.
“Permisi, Dik Cika.” Ujar Kak Nita, Si Ketua PMR sembari bersama anggota PMR yang lain memapah seorang anak. Anak itu pasti kelompok pertama yang baru saja menyelesaikan perjalanan. Waduh, apa seram banget ya sampai dia mesti pingsan begitu. Eits, tapi ini berarti ksempatanku untuk terpilih semakin besar sebab banyak yang gugur. Asik!
“Nomor urut sepuluh sampai dua belas.’”
Aku melirik nomor undianku. Nomor 12. Berarti kali ini giliranku. Aku tidak takut kok, tapi kenapa jantungku berdegup kencang ya? Dengan langkah yang entah kenapa menjadi sedikit berat aku maju ke depan.
“Nomor urut sepuluh lewat jalur perpustakaan, nomor urut sebelas lewat jalur laboratorium IPA, dan nomor urut dua belas lewat jalur WC.”
Hah? Aku nomor urut dua belas berarti kebagian wese donk?
            “Sudah paham semua?”
            “Paham!”
            “Cika, kamu paham tidak? Kenapa diam saja?”
            “Pa-paham, Pak!”
Sebenarnya aku paham, paham banget malah. Tapi heran kenapa aku bisa kebagian jalur wese? Di sana kan ada pohon beringin yang lebat bin serem banget. Wese, tempat parkir, mushola, kelas tujuh A sampai G adalah tempat yang harus aku lalui. Di koridor kelas tujuh itu juga seram banget. Pasti Si Sekretaris Ngondek itu yang sengaja bikin aku kebagian jalur wese. Huh!
*
Wese sudah di depan mata. Gelap banget mentang-mentang aku tidak membayar SPP jadi hemat listrik begini. Sebenarnya mudah saja kalau aku takut, tinggal teriak nanti tim PMR datang, tapi aku yang dikenal super tomboy bisa turun harga diri, apalagi di hadapan sekretaris ngondek itu.
Aku nyaris saja menutup mata ketika kudapati sosok hitam tinggi di dekat pohon beringin sebelum akhirnya kuurungkan. Sebab sosok itu memang menyeramkan, tapi kok cara berdirinya aneh, begitu juga tangannya, seperti … seperti … seperti ngondek! Hah? Nngondek? Tidak salah lagi, pasti dia Si Sekretaris Ngondek itu. Haha. Aku ingin sekali menjahilinya, tapi kalau begitu aku hanya menghabiskan waktu saja dan pada akhirnya aku kalah cepat sampai di finish
“Hiks … hiks … hiks …” Terdengar isakan tangis ketika aku melintasi sosok itu. Hantu kok menangis? Pasti dia tidak berani di situ sendirian. Hihi.
“Maaf ya, Luc. Kali ini aku lagi dikejar waktu jadi tidak bisa menemanimu.” Ucapku lirih diringi sedikit tawa, namun Luca tak meresponku. Aku tahu, mana bisa dia mengetahui kehadiranku sementara matanya disumpel merah-merah begitu.
Tapi dia terus terisak hingga mencuatkan rasa penasaran di hatiku. Aku meliriknya sekilas. Memandangnya beberapa jenak, dan sumpah! Dia terlihat seram banget, tidak seperti Luca yang biasanya. Kali ini bola matanya yang merah menyala itu telah sanggup membuatku melangkah lebih cepat alias belari hingga kehabisan energy. Aku berhenti berlari di tengah koridor kelas tujuh, lantas berposisi rukuk. Aku sampai lupa pada rasa maluku jika bertemu dengannya besok dan ketahuan takut.
Begitu aku kembali tegak, ternyata ada sosok yang sama di depan kelas tujuh F. Penglihatanku buyar, energiku langsung kosong seketika, dan terakhir hanya gelap yang kutangkap.
*
“Eh, kamu sudah bangun, Cik?” Begitu aku membuka mata sebuah suara langsung menyambutku.
“Maafin aku karena menghiraukanmu tadi, Luca.” Kataku tanpa mengetahui terlebih dahulu siapa yang menyambutku tadi sebab penglihatanku masih samar. Aku mengucek mata.
“Oh minta maaf sama Luca. Baik nanti aku sampaikan. Maafin aku juga ya, Cik. Tadi kamu pingsan gara-gara aku.”
‘Lhoh? Kok jawabannya begitu? Bukankah aku yang tadi telah menertawakan Luca di tengah ketakutannya?’ batinku sembari masih mengucek mata.
Begitu penglihatanku jelas, ternyata bukan Luca, melainkan Kak Toni dengan kostum hantunya yang menyambutku.
“Kamu maafin aku kan, Cik?” tanyanya lagi. Jujur, aku tidak tahu apa maksud Kak Toni dari tadi. Atau barangkali meminta maaf atas diadakannya kegiatan ini yang membikinku pingsan. Tapi kurasa itu bukanlah kesalahannya.
“Iya, Kak. Di peraturan juga bohong. Katanya hantunya cuma satu, tapi kok dua?” kataku mencoba menanggapi.
“Hah? Hantunya memang satu kok.”
“Ah, Kak Toni bercanda.. Aku tahu yang satu itu ngondek, berarti Luca, tapi yang satu lagi siapa?”
“Yang kebagian jadi hantu jalur wese itu aku, Cika.”
“Tuh kan ada dua. Kak Toni yang di depan kelas tujuh F kan?’’
“Iya, makanya aku minta maaf sebab gara-gara melihat aku, kamu jadi pingsan. Tapi Luca nggak ikut jadi hantu. Dia menangani peserta yang pingsan.
Luca datang. Benar saja dia tidak memakai kostum hantu. Justru yag dibawanya adalah obat-obatan.
“Luca, Cika tadi titip permintaan maafnya buat kamu ke aku tuh.” Celetuk Kak Toni. Luca tampak kaget, namun ada rona bahagia di wajahnya.
Aku sudah tak memikirkan gengsi lagi. Justru sekarang yang aku pikirkan adalah … Siapakah hantu ngondek di dekat pohon beringin itu? [*]
SELESAI ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages