‘Tampaknya
semua sudah berkumpul di aula.’ Batinku. Kulirik jam di pergelangan tangan.
17.45 WIB. Pantas saja, aku kan sudah terlambat lima belas menit. Segera aku
bergerak menuju tempat parkir sepeda.
Sengaja
aku datang ke sekolah sore ini sebab malam nanti aku yang merupakan calon
anggota OSIS SMP Purnama dan calon lainnya akan mengikuti kegiatan “Jalan
Malam”.
“Yakni
tahap kedua penyeleksian calon anggota OSIS SMP Purnama sehingga nantinya
didapatkan anggota-anggota OSIS baru yang memiliki keberanian baja.” Terang Kak
Toni, Si Ketua OSIS yang gagah tadi pagi.
Kabarnya,
di kegiatan Jalan Malam nanti akan ada beberapa hantu palsu yang sebenarnya
adalah Kakak-kakak OSIS. Maka dari itu aku tidak takut. Apalagi ini kan sudah
menjadi cita-citaku sejak SD–menjadi anggota OSIS SMP Purnama seperti Kakakku,
Kak Wahyu
“Jyalan malam nanti akan dibagi menjyadi dua pyuluh
pelepasan kelompok. Jyadi, setiap pelepasan adya tiga peserta. Kyalian akan
mengelilingi sekolah syendiri-syendiri. Syapa yang ketahuan bersyama-syama akan
langsung didiskualifikasi. Tyapi tenang syaja, di setiap jalur hanya ada satu
hantyu.” Terang Luca, sekretaris OSIS cowok tapi super lebay banci habis.
Kadang aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi OSIS ya? Bahkan menjadi
sekretaris.
“Heh Cyika, kamyu terlambat!” tiba-tiba kudengar
panggilan dari arah belakang. Ya ampun, setelah aku melirik, ternyata dia Luca.
Aku tidak peduli, kulanjutkan tugasku memarkirkan sepeda.
“Kok diam syaja sih, Cyik?”
“Terus aku mesti ngapain? Minta maaf gitu?” aku hendak berlalu,
tapi tanganku keburu diraihnya. Dia hanya menatapku lekat. Apa-an ini?
*
‘Mimpi
apa aku semalam? Baru sampai di sekolah langsung disambut sama dedemit bimbang.
Aduh, pasti tanganku kena virusnya makanya jadi gatal begini.’ Kesalku sembari
menggaruk-garuk lengan. Aku memang jijik sekali dengannya.
“Permisi,
Dik Cika.” Ujar Kak Nita, Si Ketua PMR sembari bersama anggota PMR yang lain
memapah seorang anak. Anak itu pasti kelompok pertama yang baru saja menyelesaikan
perjalanan. Waduh, apa seram banget ya sampai dia mesti pingsan begitu. Eits,
tapi ini berarti ksempatanku untuk terpilih semakin besar sebab banyak yang
gugur. Asik!
“Nomor
urut sepuluh sampai dua belas.’”
Aku
melirik nomor undianku. Nomor 12. Berarti kali ini giliranku. Aku tidak takut
kok, tapi kenapa jantungku berdegup kencang ya? Dengan langkah yang entah
kenapa menjadi sedikit berat aku maju ke depan.
“Nomor
urut sepuluh lewat jalur perpustakaan, nomor urut sebelas lewat jalur
laboratorium IPA, dan nomor urut dua belas lewat jalur WC.”
Hah?
Aku nomor urut dua belas berarti kebagian wese donk?
“Sudah paham semua?”
“Paham!”
“Cika, kamu paham tidak? Kenapa diam saja?”
“Pa-paham, Pak!”
Sebenarnya
aku paham, paham banget malah. Tapi heran kenapa aku bisa kebagian jalur wese?
Di sana kan ada pohon beringin yang lebat bin serem banget. Wese, tempat parkir,
mushola, kelas tujuh A sampai G adalah tempat yang harus aku lalui. Di koridor
kelas tujuh itu juga seram banget. Pasti Si Sekretaris Ngondek itu yang sengaja
bikin aku kebagian jalur wese. Huh!
*
Wese
sudah di depan mata. Gelap banget mentang-mentang aku tidak membayar SPP jadi
hemat listrik begini. Sebenarnya mudah saja kalau aku takut, tinggal teriak
nanti tim PMR datang, tapi aku yang dikenal super tomboy bisa turun harga diri,
apalagi di hadapan sekretaris ngondek itu.
Aku
nyaris saja menutup mata ketika kudapati sosok hitam tinggi di dekat pohon
beringin sebelum akhirnya kuurungkan. Sebab sosok itu memang menyeramkan, tapi
kok cara berdirinya aneh, begitu juga tangannya, seperti … seperti … seperti
ngondek! Hah? Nngondek? Tidak salah lagi, pasti dia Si Sekretaris Ngondek itu.
Haha. Aku ingin sekali menjahilinya, tapi kalau begitu aku hanya menghabiskan
waktu saja dan pada akhirnya aku kalah cepat sampai di finish
“Hiks
… hiks … hiks …” Terdengar isakan tangis ketika aku melintasi sosok itu. Hantu
kok menangis? Pasti dia tidak berani di situ sendirian. Hihi.
“Maaf
ya, Luc. Kali ini aku lagi dikejar waktu jadi tidak bisa menemanimu.” Ucapku lirih
diringi sedikit tawa, namun Luca tak meresponku. Aku tahu, mana bisa dia
mengetahui kehadiranku sementara matanya disumpel merah-merah begitu.
Tapi
dia terus terisak hingga mencuatkan rasa penasaran di hatiku. Aku meliriknya
sekilas. Memandangnya beberapa jenak, dan sumpah! Dia terlihat seram banget,
tidak seperti Luca yang biasanya. Kali ini bola matanya yang merah menyala itu
telah sanggup membuatku melangkah lebih cepat alias belari hingga kehabisan
energy. Aku berhenti berlari di tengah koridor kelas tujuh, lantas berposisi
rukuk. Aku sampai lupa pada rasa maluku jika bertemu dengannya besok dan
ketahuan takut.
Begitu
aku kembali tegak, ternyata ada sosok yang sama di depan kelas tujuh F. Penglihatanku
buyar, energiku langsung kosong seketika, dan terakhir hanya gelap yang
kutangkap.
*
“Eh,
kamu sudah bangun, Cik?” Begitu aku membuka mata sebuah suara langsung
menyambutku.
“Maafin
aku karena menghiraukanmu tadi, Luca.” Kataku tanpa mengetahui terlebih dahulu
siapa yang menyambutku tadi sebab penglihatanku masih samar. Aku mengucek mata.
“Oh
minta maaf sama Luca. Baik nanti aku sampaikan. Maafin aku juga ya, Cik. Tadi
kamu pingsan gara-gara aku.”
‘Lhoh?
Kok jawabannya begitu? Bukankah aku yang tadi telah menertawakan Luca di tengah
ketakutannya?’ batinku sembari masih mengucek mata.
Begitu
penglihatanku jelas, ternyata bukan Luca, melainkan Kak Toni dengan kostum
hantunya yang menyambutku.
“Kamu
maafin aku kan, Cik?” tanyanya lagi. Jujur, aku tidak tahu apa maksud Kak Toni
dari tadi. Atau barangkali meminta maaf atas diadakannya kegiatan ini yang
membikinku pingsan. Tapi kurasa itu bukanlah kesalahannya.
“Iya,
Kak. Di peraturan juga bohong. Katanya hantunya cuma satu, tapi kok dua?” kataku
mencoba menanggapi.
“Hah?
Hantunya memang satu kok.”
“Ah,
Kak Toni bercanda.. Aku tahu yang satu itu ngondek, berarti Luca, tapi yang
satu lagi siapa?”
“Yang
kebagian jadi hantu jalur wese itu aku, Cika.”
“Tuh
kan ada dua. Kak Toni yang di depan kelas tujuh F kan?’’
“Iya,
makanya aku minta maaf sebab gara-gara melihat aku, kamu jadi pingsan. Tapi
Luca nggak ikut jadi hantu. Dia menangani peserta yang pingsan.
Luca
datang. Benar saja dia tidak memakai kostum hantu. Justru yag dibawanya adalah
obat-obatan.
“Luca,
Cika tadi titip permintaan maafnya buat kamu ke aku tuh.” Celetuk Kak Toni.
Luca tampak kaget, namun ada rona bahagia di wajahnya.
Aku
sudah tak memikirkan gengsi lagi. Justru sekarang yang aku pikirkan adalah …
Siapakah hantu ngondek di dekat pohon beringin itu? [*]
SELESAI
^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar