Categories

Tampilkan postingan dengan label My Pen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Pen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rawaheng

Pasca hari raya idul fitri, di desaku ada fenomena unik yang dibikin sendiri oleh sebagian warganya. Ia adalah, banyak orang serempak menggelar hajatan.
Seperti hari ini saja, baru dua hari Ramadhan pamit, empat kepala kompak membangun tenda besar di depan rumah mereka dalam rangka; ada yang pernikahan, ada yang khitan. Sempurnalah kemana-mana kupingku nangkep lagu-lagu campursari, sebagai cirri khas ketika suatu hajatan dihelat. Belum lagi untuk besok, dan besoknya.

Persembunyian Terakhir

Oleh Riska Nur Sagita

              Suatu malam dia pernah datang mengendap-endap ke rumahku. Tatkala aku membukakan pintu dan terbelalak kaget, dia membekap mulutku hingga aku menyerah—mengangguk diam. Kemudian, buru-buru dia masuk setelah sibuk menoleh ke kanan-kiri-belakang, memastikan tidak ada orang barangkali.
            “Aku sedang bersembunyi.” Dia melepas sepasang sepatu putihnya yang kini berubah belang, lalu mendongak ke arahku yang membawakan secangkir teh untuknya.
            “Memang itu hobimu,” kataku seraya meloloskan cangkir ke meja.
            “Tapi kali ini lain.” Dia meraih cangkir teh hangatnya.

Yang Penting Berani Dulu

Hidup itu ternyata nggak gampang.

Buat yang mikir kalo hidup itu mudah, hidup itu sederhana, itu karena hidup kalian masih bergantung sama ortu, bener nggak? Coba deh kalian tengok orang tua kalian,tanya mereka, apa hidup itu mudah? Tentu mereka jauuuhhhh lebih berpengalaman dari kita, dan jawabannya ya pasti tentang pengalaman-pengalaman itu. Kegagalan, kecewa, itu nggak jarang mampir di perjalanan hidup (mereka), dan itu nggak mudah buat dilewati. Cuma karena sekarang kita masih dituntun ortu, semua beban pun masih ortu yang nanggung, so, kita fain fain aja dan bilang hidup itu mudah.

Jumat, 09 Agustus 2013

Menunggu Habibie

Hari ini mamaku semangat banget nonton teve. Sejak pagi tadi pandangan mata beliau nggak lepas dari layar teve, meski sempat sih mbersihin halaman rumah, ke warung, dan beribadah. Tapi emang depan teve adalah markas beliau, jadi kemanapun pergi pada akhirnya akan kembali ke situ juga.

 “Mau nonton habibi,” kata mama.

Kamis, 08 Agustus 2013

Maafkan aku, Ramadhan

Ramadhan melambaikan kuning senja terakhirnya. Sekumpulan burung sore penuh hati mengantarkannya kepada gerbang perjalanan. Aku, duduk beratapkan dedaun pohon trembesi dililit hujan penutup hari, memandang Ramadhan yang mengangguk ikhlas akan menempuh perjalanan untuk kembali lagi kepada kita tatkala angka tiga menetas. Selamat jalan, Ramadhan. Sampai Jumpa.
*                                      

Mantan (Pacar) sama dengan Barang Bekas?

            Pernah mendengar atau membaca kata-kata begini, ‘mantan (pacar) itu cuma barang bekas, jadi dikasihkan saja ke yang membutuhkan’? Oww … ow … Pernah, tidak? Malah sering? Menurutmu, kejam banget tidak tuh kata-katanya? Haha. Jujur saja nih ya, kalau aku sih agak setuju dengan istilah itu ya. *peace*
            Mantan oh mantan (pacar). Sering aku membaca status facebook berisi kata-kata seperti di atas. Saat itu aku sih tidak meng-klik ‘komentar’ ataupun ‘suka’ meski sebenarnya sangat prihatin pada kata-katanya. Yang aku pikir cuma mungkin emosi si empunya status pada seseorang yang dia sebut sebagai mantan (pacar) sedang berada pada titik kulminasi *sotoy*, jadi biarlah. Hanya kemudian aku sedikit memutar otakku diam-diam.

Rindu Facebook :3

Sejak jalan 0.facebook diblokir secara sadis oleh Telkomsel, saya jadi kesulitan menemukan akses masuk menuju jejaring social berlogo biru tua itu. Ada sih jalan lain, m.facebook misalnya. Namun tidak seperti 0.facebook yang selalu ‘puasa’, m.facebook doyan sekali makan pulsa saya sedikitnya dua hari tiga ribu rupiah untuk 12 MB. Memang sih keuntungannya saya bisa melihat image, tapi sebenarnya saya tidak terlalu butuh fasilitas gambar itu.

Salam Tempel untuk Anak Kecil


Teman-teman Blogger, pernahkan Anda mendapati dua orang yang berjabat-tangan dimana salah satu di antara mereka sekalian mengangsurkan selembar uang kepada lawan jabat-tangannya? Tanpa mengulangi bersentuhan tangan, lalu mereka tertawa dan yang dikasih mengucap terima kasih. Yang demikian itu dinamakan salam tempel.
Salam tempel. Salam tempel biasanya banyak didapati pada tempat-tempat hajatan dan akan lebih banyak lagi ketika hari yang fitri tiba, seperti hari ini. Salam tempel biasanya melibatkan anak-anak kecil dimana hal ini menjadi alasan kuat mereka untuk bersilaturahim. 

Rabu, 07 Agustus 2013

Malam Lebaran


—Kakak, saat ini ialah malam fitri pertama yang akan aku lewati tanpa dirimu—

Malam ini, mereka menghias langit dengan payung-payung kembang api lagi. Sama seperti ramadhan-ramadhan yang lalu ...,

Kakak, dari sudut kamar kuningku, telingaku bisa menangkap letusan semerbak itu. Letusan yang membuatku meringis dan tanganku serempak menyumbat telinga ketika yang lain bersorak bahagia. Percikan warna kembang api sempat selalu mampir di jendela kamarku. Menyapaku, seolah mengajak keluar. Aku pikir kembang api merindukanku, Kakak.

Senin, 22 Juli 2013

Pagi: Dua Suara dari Balik Pintu


Oleh Riska Nur Sagita

            Miris Pintu meringis. Pada bulan Ramadhan ini, dua buah suara dari balik depan-belakangnya beradu lantang setiap pagi. Suara yang memiliki arti bahkan berseberangan. Tapi tentunya Pintu lebih ingin mendengarkan suara dari belakang, namun apa daya? Wajahnya kan utuh menghadap ke depan, kecuali jika Pintu ditepikan sebagai tanda ‘boleh masuk’.
            Pelataran luas masjid At-Taqwa dipenuhi oleh bocah-bocah usia sekolah yang kebanyakan ialah laki-laki. Selepas meraupkan tangan ke wajah sebagai tanda usai salat subuh tadi mereka semua memang gegas menuju halaman masjid. Bukan untuk menyaksikan secara langsung terbitnya matahari bulan Ramadhan, melainkan untuk bermain-main. Keseluruhan mereka berlomba paling keras meledakkan mercon yang tentu sebelumnya telah mereka selipkan di balik kantong celana secara diam-diam supaya tidak ketahuan ibu. Orangtua akhirnya tak kuasa melarang, karena hal ini memang menjadi kesenangan sendiri bagi anak-anak mereka di bulan Ramadhan.
            Duaarrr … Duaaarrr …
            Lapangan masjid bergetar. Anak-anak penabuh tertawa. Sebagian anak perempuan menjerit-jerit ketakutan, dan itu ialah memang hasil yang anak laki-laki harapkan. Suasana di depan Pintu yang cukup ramai dan sedikit lucu.
            A’udzubillaahiminassyaitoonirrojiim … Bismillaahirrahmaanirrahiim …

Minggu, 14 Juli 2013

-_-"

Komentarku pada postingan sebuah fanbase seorang penyanyi muda yang saat ini sedang naik daun menuai kontroversi. Padahal tuh komentar cuma berisi satu kalimat, dan sejauh ini aku sama sekali belum nemu salahnya komentarku (mana bisa nemu).

Sejak komentar itu diluncurkan sampai sekitar sepuluh menit lalu, ada lima orang me-reply. Semuanya kontra. Aku sih nggak bisa secara lengkap membaca balasan mereka karena ketika aku buka, komentar mereka sudah tenggelam oleh komentar-komentar yang lain (kan lagi hangat-hanganya tuh penyanyi jadi idola). Tapi beberapa kata mereka yang muncul di notifications sudah cukup kok mengindikasikan respon mereka terhadap komentarku yang intinya ialah ..., kontra.

Mungkin menurut mereka komentarku terlalu kejam kali ya. Kalo boleh jujur aku emang orangnya agak kejam untuk sebuah isi hati. Kebanyakan orang di dunia nyata mungkin mengenalku sebagai sosok 'pendiam'. Heuh, tapi itu sama sekali bukan aku! Aku yang asli ialah amat periang dan suka lelucon. Mereka yang kudiami dan kubaiki biasanya bukan orang yang kepada mereka aku nyaman. Ya, merekalah yang memaksaku bersikap demikian sebab mereka belum mampu menerima apa adanya diriku.~

Aku jadi teringat pada hari kemarin nih. Pada siang bolong di hari Jumat seorang teman bercerita mengenai respon dua orang laki-laki berumur terhadap sebuah kesalahan kecil yang tanpa sengaja dia lakukan kemarin. Kesalahan kecil itu tidak bisa aku tuliskan di sini. Intinya, mereka menghubung-hubungkan kesalahan itu dengan *k**ta*si*. Sebagai anak *k**ta*si, jelas dia gela. Aku yang mendengarnya pun gela bukan kepalang. Dadaku panas mendengar ceritanya sampai akhir. Yang aku sayangkan, kenapa dia diam saja dibegitukan? Padahal jika aku jadi dia, aku pasti akan berucap "Leh, manusia ya luput" atau apalah yang intinya menunjukkan bahwa aku tidak terima!

Besok Senin ialah giliranku mengikuti seorang 'berumur'. Apakah aku akan bernasib sama seperti temanku? Tapi sungguh jika begitu aku tidak akan diam saja. Meski hanya sekelumit kata pasti akan aku jawal. Dampak negatif tak pernah kupikirkan walau itu berbunyi aku harus keluar sekalipun! Bagiku, harga diri itu perlu diperjuangkan! Apalagi jika membawa nama '*k**ta*si' yang jelas akan bersangkut dengan *e*o*a*ku. Aku tidak akan terima!

Memang inilah aku dengan segala sisi negatifku. Mungkin orang nggak banyak yang nyangka kalo aku bisa jadi kejam dan frontal memperjuangkan isi hati yang benar-benar ingin diperjuangkan dan harga diri yang juga benar-benar ingin diperjuangkan.

Benar, meski terlihat lemah dalam banyak hal, tapi aku tidak akan membiarkan orang-orang menginjak-injak martabatku. Terkadang aku memang sengaja mengalah, tapi itu bukan untuk kebahagiaan orang-orang yang 'akhirnya' menang. Semata-mata hanya karena aku tidak ingin sebuah masalah berlanjut hingga kata-kata kotor keluar dari mulutku. Karena jika itu terjadi, tandanya aku sedang berada di puncak kemarahan!

I'll respect you if you respect me!

#tulisaninidiketikdenganemosi
Kamar Kuning, 29-06-2013:21.17 WIB

Kamu dan Dia: Sedekat Apa?

Kamu dan Dia: Sedekat Apa?
Oleh Riska Nur Sagita

Kamu pernah bertanya kepada dia tentang apa bedanya 'friendship', 'close friend', dan 'best friend'.

Dan kamu tersenyum ketika dia menjawab: friendship itu persahabatan, close friend itu teman dekat, dan best friend itu sahabat terbaik. Meskipun, bukan jawaban seperti itu yang kamu ingin. Ada yang lebih, sebab yang dia jawab itu menurut kamu bukanlah perbedaan, tetapi arti. Seharusnya dia bisa menjabarkan bedanya, kata kamu dalam hati. Tetapi dia mungkin terlalu malas bersuara.

Kamu tetap tersenyum lalu kembali bertanya polos, "Lalu, kita yang mana?"

Itu adalah inti pertanyaan kamu sebenarnya. Ya, kamu ingin mengerti berada pada level mana kamu di hatinya. Menurut kamu, di antara tiga tadi, yang paling tinggi kedudukannya adalah best friend. Kamu ingin dia menjawab 'sahabat terbaik' atau 'best friend' atas pertanyaan kamu.

Namun dia tidak menjawab. Lama, sampai kamu ragu bahwa dia masih berada di sampingmu. Hingga beberapa menit kemudian perlahan bibirnya mulai bergerak sambil wajahnya menoleh ke arah kamu, "Kamu cukup close friend buatku," ujar dia.

Kamu tersenyum. Ngenes. Kecewa. Cuma close friend? tanya kamu dalam hati. Ya, menurut kamu itu belum cukup karena kamu mengartikannya dengan arti sebenarnya. Tetapi asal kamu tahu, dia berbeda pikir dengan kamu. Maksud dia, teman dekat itu sama dengan ... [*]

Kamu dan Dia: Tentang Harapan

Kamu dan Dia: Tentang Harapan
Oleh Riska Nur Sagita

Harapan.

Harapan itu apa sih? tanya dia.

Seperti bayi dalam rahim ibu, kah? sambung dia.

Atau, meliuk janur di pelataran rumah? jawab kamu, menambah dia dengan bingung.

Harapan itu ya harapan, putus kamu.

Harapan ya harapan? ulang dia, masih bingung.

Kamu tak menjawab. Pun dia diam. Kalian diam. Bertanya pada pikiran masing-masing mengenai ha-ra-pan.

Lalu tiba-tiba kamu meraih kedua tangan dia, menatap mata dia. Dia bingung saat kamu mengembuskan napas kamu di depan wajah dia sambil berbisik pelan, "Harapan itu ... seperti akhir tulisan tempat kita ada."

Dear FZ

Saya mengenalmu beberapa bulan lalu lewat status teman facebook. Yang membuat saya tertarik ialah pernyataan teman saya bahwa kamu bisa membawa siapapun berkeliling dunia dengan cuma-cuma.

Kamu tahu? Awalnya saya tidak percaya dengan itu, tetapi lantas saya mencoba membuktikannya. Kita berkenalan, FZ. Kita berkenalan! Ya, saya duluan yang menawari berkenalan. Saya masih ingat, dalam perkenalan itu, kamu meminta dua data diri saya: nama dan kondisi hati saya. Sedikit aneh memang, tetapi saya turuti.

Lalu beberapa waktu setelah kamu mengonfirmasi perkenalan saya, kita menjadi akrab, dan semuanya terbukti! Kamu benar-benar siap sedia membawa saya berkeliling dunia dengan pesonamu secara gratis! Yang ada di pikiran saya cuma dua tanda tanya: Kenapa kamu bisa sebaik itu sih, FZ? Padahal, kita belum lama berkenalan, kan?

Kamu tahu, FZ? Sejak mengenalmu, hari-hari saya selalu diliputi warna-warni. Satu hari saja saya tidak menyapamu, rasanya ada yang ganjil dan perasaan bersalah muncul selalu tiba-tiba. Karena kamu terlalu dan selalu baik, jadi saya tidak enak. Kamu bahkan selalu rela menghabiskan waktumu berjam-jam hanya untuk mengajari saya banyak hal, selain mengajak keliling dunia tentunya. Yang masih saya ingat ialah kamu mengajari saya memakai jilbab dengan tutorial (meski kamu bukan perempuan), mengajari cara mengerjakan soal hipotik dan obligasi, bahkan mengajari cara membuat singkong keju terbaik! Saat itu saya berpikir bahwa kamu benar-benar multitalent, FZ! Luar biasa!

Perbandingan

Dulu,

Gue suka banget nyari-nyari info lomba nulis yang diadakan oleh forum-forum tertentu ataupun perorangan. Yang iming-imingnya si para juara bakal dihadiahi duit atau paket buku, sementara sejumlah kontributor yang kepilih dijanjikan terbit karyanya. Ya, ini adalah impian gue. Nggak muluk, cuma TERBIT KARYANYA.

Gue iri banget sama temen-temen yang udah nerbitin banyak karya. Bahkan di antaranya udah dua puluhan lebih. Ya, meskipun mungkin kebanyakan cuma terbit di indie. Tetapi, kan, lihat tulisan sendiri dicetak dalam sebuah buku keroyokan itu juga nyenengin banget tahu! Apalagi kalau jumlahnya sampe nggak kehitung jari. Gue pengin! Makanya, di samping nyari info lomba nulis, gue juga selalu coba ngejar lomba itu, bahkan sampe yang berbayar.

Ada yang tahu lagu ini?

Oke, ceritanya udah lama banget nih gue suka lagu ini. Gue denger pertama kali pas SD. Waktu itu ada temen gue yang mau ikut lomba nyanyi, terus dia diajarin sama Bu Mukti--guru pendamping--nyanyi lagu ini. Karena lagunya lumayan bagus, akhirnya banyak yang suka nyanyiin (meski nggak ikut lomba) dan nyebar-nyebar, terus nyampe deh ke telinga gue.

Lama banget gue nggak inget tuh lagu lagi seiring banyaknya lagu bagus yang lahir dari rahim para musisi anyar. Nah, beberapa menit lalu gue tiba-tiba inget tuh lagu. Gue coba nyanyi, eh tapi gue lupa liriknya. -_- Iseng-iseng gue googling dengan kata kunci sebagian lirik yang gue hapal. Ternyata gue nemu! Di http://rastine-smagaz.blogspot.com . Lirik lagunya ada, tetapi yang ngepost kagak tahu tuh lagu ciptaan siapa. Yaahhh ... Padahal gue berharap banget bisa tahu siapa yang ciptain lagu se-syahdu itu. Ajaibnya, yang ngepost juga katanya denger lagu ini pas jaman SD pas ada temennya mau ikut lomba nyanyi. Samaan donk sama gue.

Karena penasaran, gue runutin 31 komentar di postingan itu. Eh, terus gue baca di salah satu komentar ada yang tahu siapa pencipta tuh lagu. Penciptanya Bang Syafii Embut katanya. Gue sih belum pernah denger tuh nama. Tapi habis tuh gue googling lagi kata kunci Syafii Embut. Ternyata ada MP3-nya! Dan berarti bener kalo beliau yang ciptain tuh lagu. Gue niat mau download ah suatu hari entar.

Oke deh, siapa tahu lu lu juga pada penasaran lagu apa sih yang udah bikin gue sampai nge-note gini. Siapa tahu juga lu tahu lagu ini kayak gue dari SD. Nih nih lirik lagunya~


Sabtu, 13 Juli 2013

Menilai Nilai



Nilai.
Apa sih nilai? Banyak sekali definisinya. Namun kali ini yang ingin saya catat adalah nilai yang memiliki arti: tulisan berupa angka yang pada bentuk-bentuk tertentu membuat kita senang dan pada bentuk yang lain membuat kita kecewa, kesal, sedih, bahkan menyalahkan.

Untuk mengelompokkan nilai mana yang membuat senang dan mana yang membuat kecewa juga relatif sekali. Ada orang yang sudah senang ketika mendapat nilai 8. Namun, ada juga yang masih kecewa ketika mendapat nilai 8. Tergantung KKM yang ditanam dalam pikiran, mungkin. Tetapi kalau saya sendiri sih tidak ada KKM.

Bicara nilai agaknya tidak bisa dijauhkan dari yang namanya 'tujuan ke sekolah'. Dalam teori, jika seseorang ditanya: apa tujuanmu berangkat ke sekolah? Kebanyakan mereka menjawab: menuntut ilmu. Namun bisa dipastikan, entah hanya secuil atau memang prioritas, mereka memiliki tujuan lain yakni mencari 'nilai'. Nilai yang baik tentunya. Hal ini bisa dibuktikan di lapangan bahwa ketika tugas yang Z (misalnya) garap sendiri dikoreksi, dan seharusnya mendapat nilai 98, sementara yang mengoreksi keliru menjadi 97, dia marah besar. Ini bisa jadi tanda bahwa nilai itu penting sekali baginya. 

Rabu, 08 Mei 2013

Nomor Cantiks


1899999
0808080808080
*
Apa yang Anda pikirkan setelah melihat serentetan nomor di atas? Nomornya aneh? Nomornya cantiks? Langsung kepengin menghubungi biar diajak kenalan terus pacaran(biasanya laki-laki begini)? Atau ... Malah nggak kepikiran acan kalau itu saya ibaratkan nomor handphone? ----"

Oke, pada kali ini ketiga belas angka di atas saya tulis dan anggap saja itu serentetan nomor handphone. Nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Meskipun saya nggak tahu apakah ada nomor HP yang seperti itu. Hehe ;D Sebab, saya sudah mencatat sebuah pengalaman saya bersama nomor cantiks (ditambah S belakangnya supaya seksi saja. Cantik dan seksi, gitu ;D)

Beberapa hari lalu teman sebangku saya, Eli, mendikte dua belas nomor handphone-nya kepada seseorang yang duduk di depan bangkunya, Perum, secara pelan. Lalu setelah memastikan bahwa Perum telah menekan tombol 'Save', tiba-tiba Eli nyengir kepada saya. Saya ngernyit. Eli lalu bilang (sambil tampangnya mengindikasikan kepameran) bahwa nomor handphonenya itu can-tiks. Saya yang sewaktu dia ndikte tidak terlalu mendengar kemudian menengok nomor itu di layar handphone-nya. Yah, lumayaan ... Ada pengulangan di sembilan angka paling belakangnya. Eli pun tertawa puas ketika saya membenarkan penilaiannya terhadap nomor HP-nya. #.# 



Saya kemudian berpikir. Nomor cantiks. Saya kemudian mengingat. Nomor cantiks. Sudah lama sekali saya tidak mendengar frasa 'nomor cantiks'. Terima kasih, Eli, kau sudah mengingatkan saya pada nomor cantiks. ;) wkwk

Dulu, nomor cantiks itu ada di mana-mana dan kerap sekali saya (dan mungkin Anda) temui. Hampir semua teman saya bahkan nomornya cantik karena memang dia adalah sesuatu yang sempat jadi yang paling dicari oleh orang-orang. Yang apabila telah memilikinya, kita seolah damai. Dan ketika ada adu kecantikan nomor HP kita nggak usah gusar. Waktu SMP emang ada kok kayak beginian. Hehe

Walau begitu, saya tidak sampai juga mati-matian beli nomor yang paling cantiks supaya menang. Saya belinya nomor cantiks yang standarnya anak sekolah aja yang murah. Kan memang ada ya yang cantiks banget, tapi ya pasti harganya lebih wow. Saya pernah lihat di beranda ada yang menjual nomor cantiks itu kembar-kembar cantiks banget soalnya, cuma ya tadi: mahal. Emang sih punya nomor cantik itu ada untungnya. Nomornya mudah dihapal, dan bisa buat pamer. Tapi saya ya nggak segitu banget sih: kalau saya pengin nomor cantik sampai merogoh kocek ratusan ribu.

Sampai suatu kejadian membuat saya tidak tertarik lagi kepada nomor cantiks.

Jadi begini, saya pernah nitip kepada Mama untuk dibelikan nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Karenaa ... Di teman saya masa harganya Rp 8.500 untuk pulsa berisi Rp 5000?! Menurut saya itu mahal niaaaaannnn ... Saya mencari yang maksimal Rp 7.500, dan biasanya di pasar itu banyaaakkk.

Dan Anda tahu apa yang Mama saya bawa ketika pulang dari pasar? Ya salah satunya jelas Kartu Telkomsel titipan saya. Nomornya cantik pula. Jika tidak salah seperti ini: lupa. Tetapi ada yang membuat kepala saya seperti digetok palu seketika, yakni harganya, bo'?! Harga kartu merah itu Er pe tigabelasriburupiah, cuy! Kurang jelas?! RP 13.000, cuy! Lebih mahal empatribulimaratus dari yang teman saya juaalll ... Aaaaaa!

#gelaappp.

Saya kira masih ada harapan terhadap isi pulsanya. Ternyata, isi pulsa teteup Rp 5000. Mama yang tidak tahu apa-apa ya biasa saja dan saya tidak bisa menyalahkan karena salah saya sendiri 'titip'. Mau dikembaliin juga nggak mungkin kaann -,-

Dalam hati saya mencoba menghibur diri: tenang, Ri, nggak sampai ratusan ribu inih... #.#

Angkot di Mata Saya


Sebagai pengguna (nyaris tetap) angkutan kota, saya agaknya membenarkan apa yang Bapak Amin katakan pada hari Jumat, 26 April 2013 lalu. Beliau mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang anti menumpang angkutan kota (kecuali yang ini). Hal ini lantaran beliau menilai bahwa angkotan kota era sekarang kebanyakan kurang layak untuk beroperasi. Banyak dari mereka yang bahkan sudah agak reot dan mengeluarkan bising yang aneh ketika melaju. Seperti salah satu merk angkot yang beliau sebutkan, yang padahal menjadi angkot favorite bagi para pelajar dari Wangon menuju Ajibarang.

Angkutan kota alias angkot. Setiap setelah saya meletakkan bokong pada salah satu joknya, rasa bersalah menjalari pikiran saya. Padahal saat itu tidak ada apa-apa. Si angkot juga masih ngetem di terminal. Cuma, rasa bersalah itu muncul karena, selain saya berdoa keselamatan untuk perjalanan nanti, tanpa sadar ada sebait harapan yang juga berkelebat di kepala. Yakni, harapan agar angkutan kota yang saya tumpangi tidak terlalu ramai oleh penumpang. -,- Astagfirullaahal'adziim ... 


Fenomena 'Add Me'



Setelah kemarin saya bikin catatan tentang fenomena 'like back', kali ini saya kembali nulis catatan, masih mengenai fenomena-fenomena di jagad facebook, yakni fenomena 'Add me'.
*
*
*
Permintaan 'add me' atau 'tambahkan aku sebagai temanmu' seringkali saya temukan bercecar di dinding dan komentar postingan fanpage yang di dalamnya memuat banyak anggota.

Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat membaca belasan bahkan puluhan komentar yang kesemuanya hanya berisi dua kata itu. Tentu saja komentar 'add me' seringkali sama sekali tidak nyambung dengan isi postingan yang mereka komentari, kecuali jika ditulis pada fanpage-fanpage yang menjanjikan temanmu akan bertambah sepuluh ribu dalam waktu satu detik.

Sebetulnya menurut saya sibuk menuliskan 'add me' itu termasuk hal yang sia-sia. Kenapa? Lantaran komentar kita kemungkinan besar dalam waktu singkat juga sudah tertimbun oleh komentar-komentar yang lain yang bahkan sama-sama bertulis "Add Me".

Dan lalu ketika berhasil menjaring beberapa akun facebook untuk klik 'add' pada profil kita ... Apakah ada kebanggaan tersendiri begitu ya? Bangga jika di beranda banyak (calon) teman yang mengantri untuk dikonfirmasi? Bangga menaut banyak teman yang bahkan sampai kuota teman facebook habis sementara tidak semua teman facebook baik? 

Pages