1899999
0808080808080
*
Apa yang Anda pikirkan setelah melihat serentetan nomor di atas? Nomornya aneh? Nomornya cantiks? Langsung kepengin menghubungi biar diajak kenalan terus pacaran(biasanya laki-laki begini)? Atau ... Malah nggak kepikiran acan kalau itu saya ibaratkan nomor handphone? ----"
Oke, pada kali ini ketiga belas angka di atas saya tulis dan anggap saja itu serentetan nomor handphone. Nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Meskipun saya nggak tahu apakah ada nomor HP yang seperti itu. Hehe ;D Sebab, saya sudah mencatat sebuah pengalaman saya bersama nomor cantiks (ditambah S belakangnya supaya seksi saja. Cantik dan seksi, gitu ;D)
Beberapa hari lalu teman sebangku saya, Eli, mendikte dua belas nomor handphone-nya kepada seseorang yang duduk di depan bangkunya, Perum, secara pelan. Lalu setelah memastikan bahwa Perum telah menekan tombol 'Save', tiba-tiba Eli nyengir kepada saya. Saya ngernyit. Eli lalu bilang (sambil tampangnya mengindikasikan kepameran) bahwa nomor handphonenya itu can-tiks. Saya yang sewaktu dia ndikte tidak terlalu mendengar kemudian menengok nomor itu di layar handphone-nya. Yah, lumayaan ... Ada pengulangan di sembilan angka paling belakangnya. Eli pun tertawa puas ketika saya membenarkan penilaiannya terhadap nomor HP-nya. #.#
Saya kemudian berpikir. Nomor cantiks. Saya kemudian mengingat. Nomor cantiks. Sudah lama sekali saya tidak mendengar frasa 'nomor cantiks'. Terima kasih, Eli, kau sudah mengingatkan saya pada nomor cantiks. ;) wkwk
Dulu, nomor cantiks itu ada di mana-mana dan kerap sekali saya (dan mungkin Anda) temui. Hampir semua teman saya bahkan nomornya cantik karena memang dia adalah sesuatu yang sempat jadi yang paling dicari oleh orang-orang. Yang apabila telah memilikinya, kita seolah damai. Dan ketika ada adu kecantikan nomor HP kita nggak usah gusar. Waktu SMP emang ada kok kayak beginian. Hehe
Walau begitu, saya tidak sampai juga mati-matian beli nomor yang paling cantiks supaya menang. Saya belinya nomor cantiks yang standarnya anak sekolah aja yang murah. Kan memang ada ya yang cantiks banget, tapi ya pasti harganya lebih wow. Saya pernah lihat di beranda ada yang menjual nomor cantiks itu kembar-kembar cantiks banget soalnya, cuma ya tadi: mahal. Emang sih punya nomor cantik itu ada untungnya. Nomornya mudah dihapal, dan bisa buat pamer. Tapi saya ya nggak segitu banget sih: kalau saya pengin nomor cantik sampai merogoh kocek ratusan ribu.
Sampai suatu kejadian membuat saya tidak tertarik lagi kepada nomor cantiks.
Jadi begini, saya pernah nitip kepada Mama untuk dibelikan nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Karenaa ... Di teman saya masa harganya Rp 8.500 untuk pulsa berisi Rp 5000?! Menurut saya itu mahal niaaaaannnn ... Saya mencari yang maksimal Rp 7.500, dan biasanya di pasar itu banyaaakkk.
Dan Anda tahu apa yang Mama saya bawa ketika pulang dari pasar? Ya salah satunya jelas Kartu Telkomsel titipan saya. Nomornya cantik pula. Jika tidak salah seperti ini: lupa. Tetapi ada yang membuat kepala saya seperti digetok palu seketika, yakni harganya, bo'?! Harga kartu merah itu Er pe tigabelasriburupiah, cuy! Kurang jelas?! RP 13.000, cuy! Lebih mahal empatribulimaratus dari yang teman saya juaalll ... Aaaaaa!
#gelaappp.
Saya kira masih ada harapan terhadap isi pulsanya. Ternyata, isi pulsa teteup Rp 5000. Mama yang tidak tahu apa-apa ya biasa saja dan saya tidak bisa menyalahkan karena salah saya sendiri 'titip'. Mau dikembaliin juga nggak mungkin kaann -,-
Dalam hati saya mencoba menghibur diri: tenang, Ri, nggak sampai ratusan ribu inih... #.#
Tetapi sejak itu saya berusaha sekali buat tidak mengganti nomor cantiks yang dibelikan Mama. Eman-eman. Sampai tiba-tiba nomor cantiks itu hangus sendiri, ya babayyy ...
Setelah nomor itu hangus, saya tidak berusaha menggantinya dengan nomor cantiks lagi sampai sekarang. Saya sekarang pakainya satu nomor HP dengan punya Mama. Dengan kata lain, saya tidak punya nomor HP sendiri. Nomornya Mama itu dari saya kelas 5 SD (hampir 6 tahun). Kelemahannya, nggak pernah ada gratisan SMS-nya. u,u
Tetapi karena nomornya udah banyak yang kenal, Mama ya nggak mau ngeganti.
Dan masalah nomor cantik itu ... Saya kira sekarang udah nggak jaman yaa. (menghiburdiri xd) Paling hanya untuk bisnis-bisnis semata yang apabila memakai nomor cantiks akan mempermudah komunikasi mungkin. Bahkan saya nyaris lupa seperti apa nomor yang dikatakan cantiks, lho. Sampai Eli pamer kepada saya. -;- Ya selamat saja dah untuk teman-teman yang nomornya masih cantiks dan masih suka gonta-ganti nomor cantiks. Hati-hati juga kalau belinya. Jangan sampai kayak saya.
*
Apa yang Anda pikirkan setelah melihat serentetan nomor di atas? Nomornya aneh? Nomornya cantiks? Langsung kepengin menghubungi biar diajak kenalan terus pacaran(biasanya laki-laki begini)? Atau ... Malah nggak kepikiran acan kalau itu saya ibaratkan nomor handphone? ----"
Oke, pada kali ini ketiga belas angka di atas saya tulis dan anggap saja itu serentetan nomor handphone. Nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Meskipun saya nggak tahu apakah ada nomor HP yang seperti itu. Hehe ;D Sebab, saya sudah mencatat sebuah pengalaman saya bersama nomor cantiks (ditambah S belakangnya supaya seksi saja. Cantik dan seksi, gitu ;D)
Beberapa hari lalu teman sebangku saya, Eli, mendikte dua belas nomor handphone-nya kepada seseorang yang duduk di depan bangkunya, Perum, secara pelan. Lalu setelah memastikan bahwa Perum telah menekan tombol 'Save', tiba-tiba Eli nyengir kepada saya. Saya ngernyit. Eli lalu bilang (sambil tampangnya mengindikasikan kepameran) bahwa nomor handphonenya itu can-tiks. Saya yang sewaktu dia ndikte tidak terlalu mendengar kemudian menengok nomor itu di layar handphone-nya. Yah, lumayaan ... Ada pengulangan di sembilan angka paling belakangnya. Eli pun tertawa puas ketika saya membenarkan penilaiannya terhadap nomor HP-nya. #.#
Saya kemudian berpikir. Nomor cantiks. Saya kemudian mengingat. Nomor cantiks. Sudah lama sekali saya tidak mendengar frasa 'nomor cantiks'. Terima kasih, Eli, kau sudah mengingatkan saya pada nomor cantiks. ;) wkwk
Dulu, nomor cantiks itu ada di mana-mana dan kerap sekali saya (dan mungkin Anda) temui. Hampir semua teman saya bahkan nomornya cantik karena memang dia adalah sesuatu yang sempat jadi yang paling dicari oleh orang-orang. Yang apabila telah memilikinya, kita seolah damai. Dan ketika ada adu kecantikan nomor HP kita nggak usah gusar. Waktu SMP emang ada kok kayak beginian. Hehe
Walau begitu, saya tidak sampai juga mati-matian beli nomor yang paling cantiks supaya menang. Saya belinya nomor cantiks yang standarnya anak sekolah aja yang murah. Kan memang ada ya yang cantiks banget, tapi ya pasti harganya lebih wow. Saya pernah lihat di beranda ada yang menjual nomor cantiks itu kembar-kembar cantiks banget soalnya, cuma ya tadi: mahal. Emang sih punya nomor cantik itu ada untungnya. Nomornya mudah dihapal, dan bisa buat pamer. Tapi saya ya nggak segitu banget sih: kalau saya pengin nomor cantik sampai merogoh kocek ratusan ribu.
Sampai suatu kejadian membuat saya tidak tertarik lagi kepada nomor cantiks.
Jadi begini, saya pernah nitip kepada Mama untuk dibelikan nomor handphone yang cantiks kalau bisa. Karenaa ... Di teman saya masa harganya Rp 8.500 untuk pulsa berisi Rp 5000?! Menurut saya itu mahal niaaaaannnn ... Saya mencari yang maksimal Rp 7.500, dan biasanya di pasar itu banyaaakkk.
Dan Anda tahu apa yang Mama saya bawa ketika pulang dari pasar? Ya salah satunya jelas Kartu Telkomsel titipan saya. Nomornya cantik pula. Jika tidak salah seperti ini: lupa. Tetapi ada yang membuat kepala saya seperti digetok palu seketika, yakni harganya, bo'?! Harga kartu merah itu Er pe tigabelasriburupiah, cuy! Kurang jelas?! RP 13.000, cuy! Lebih mahal empatribulimaratus dari yang teman saya juaalll ... Aaaaaa!
#gelaappp.
Saya kira masih ada harapan terhadap isi pulsanya. Ternyata, isi pulsa teteup Rp 5000. Mama yang tidak tahu apa-apa ya biasa saja dan saya tidak bisa menyalahkan karena salah saya sendiri 'titip'. Mau dikembaliin juga nggak mungkin kaann -,-
Dalam hati saya mencoba menghibur diri: tenang, Ri, nggak sampai ratusan ribu inih... #.#
Tetapi sejak itu saya berusaha sekali buat tidak mengganti nomor cantiks yang dibelikan Mama. Eman-eman. Sampai tiba-tiba nomor cantiks itu hangus sendiri, ya babayyy ...
Setelah nomor itu hangus, saya tidak berusaha menggantinya dengan nomor cantiks lagi sampai sekarang. Saya sekarang pakainya satu nomor HP dengan punya Mama. Dengan kata lain, saya tidak punya nomor HP sendiri. Nomornya Mama itu dari saya kelas 5 SD (hampir 6 tahun). Kelemahannya, nggak pernah ada gratisan SMS-nya. u,u
Tetapi karena nomornya udah banyak yang kenal, Mama ya nggak mau ngeganti.
Dan masalah nomor cantik itu ... Saya kira sekarang udah nggak jaman yaa. (menghiburdiri xd) Paling hanya untuk bisnis-bisnis semata yang apabila memakai nomor cantiks akan mempermudah komunikasi mungkin. Bahkan saya nyaris lupa seperti apa nomor yang dikatakan cantiks, lho. Sampai Eli pamer kepada saya. -;- Ya selamat saja dah untuk teman-teman yang nomornya masih cantiks dan masih suka gonta-ganti nomor cantiks. Hati-hati juga kalau belinya. Jangan sampai kayak saya.
Ngomong2 soal kasih nilai yg salah, saya juga sering waktu SD tuh. :D
BalasHapusBlog walking here, kunjungi balik yuk http://www.bonekalilin.com/