Dari Abdullah RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda : Tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya seberat biji sawi.”"
Rabu, 08 Mei 2013
Angkot di Mata Saya
Sebagai pengguna (nyaris tetap) angkutan kota, saya agaknya membenarkan apa yang Bapak Amin katakan pada hari Jumat, 26 April 2013 lalu. Beliau mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang anti menumpang angkutan kota (kecuali yang ini). Hal ini lantaran beliau menilai bahwa angkotan kota era sekarang kebanyakan kurang layak untuk beroperasi. Banyak dari mereka yang bahkan sudah agak reot dan mengeluarkan bising yang aneh ketika melaju. Seperti salah satu merk angkot yang beliau sebutkan, yang padahal menjadi angkot favorite bagi para pelajar dari Wangon menuju Ajibarang.
Angkutan kota alias angkot. Setiap setelah saya meletakkan bokong pada salah satu joknya, rasa bersalah menjalari pikiran saya. Padahal saat itu tidak ada apa-apa. Si angkot juga masih ngetem di terminal. Cuma, rasa bersalah itu muncul karena, selain saya berdoa keselamatan untuk perjalanan nanti, tanpa sadar ada sebait harapan yang juga berkelebat di kepala. Yakni, harapan agar angkutan kota yang saya tumpangi tidak terlalu ramai oleh penumpang. -,- Astagfirullaahal'adziim ...
Maksud saya sih supaya nanti tidak perlu mencium bau keringat ketiak juga ketika keluar tidak ribet. Bukan, bukan supaya sopir dan kondekturnya sedih. Karena kalau mereka sedih saya juga pasti sedih. Biarpun alasannya begitu, apakah ini tetap berarti saya mencegah rejeki orang, kah? :'( Apakah hanya saya yang berharap seperti itu ketika naik angkot?
Kalaupun ya si angkot tetap dapat menggendong banyak penumpang, saya kadang memilih diam sambil menggerutu. Dan ketika penumpang bertambah, saya lebih baik berdiri daripada duduk dan berhadapan langsung dengan ketiak orang-orang, kecuali jika saya ada di dekat jendela. Biasanya kalau sudah di Wangon dan banyak calon penumpang, saya yang sebelumnya duduk akan berdiri lalu maju supaya nanti saat keluar tidak terlalu merepotkan.
Tetapi ada kalanya angkutan kota yang saya tumpangi malah sepi penumpang. Malah terkadang dari Ajibarang menuju Wangon hanya berisi saya seorang. Seperti pada hari Jumat lalu. Saya benar-benar sedih. Saya tidak enak. Saya bukan takut akan terjadi hal-hal negatif atau apalah, karena kondektur angkot itu mungkin sudah lumayan hapal dengan perempuan kecil bertas hitam ini. Saya lumayan sering naik angkot itu. Saya sedih karena supir dan kondekturnya juga sedih. Penghasilan mereka turun pasca demo kenaikan BBM pada hari Rabu lalu, ditambah kejadian ini.
Saya berdoa semoga dalam perjalanannya akan ada penumpang banyak buat menemani kami bertiga. Tetapi tampaknya Alloh berkehendak lain. Dia hanya menghadirkan seorang penumpang lagi saja untuk menemani kami. Penumpang laki-laki, yang turun di terminal Wangon. Setelah si kondektur berteriak-teriak menyebutkan nama Cilacap, Jeruk Legi, dll, tetap tidak ada satu orang pun yang tertarik naik. (mungkin) demi saya, angkot itu tetap melaju baru kemudian berhenti di perempatan Wangon. Supir dan kondekturnya turun, medang. Saya seorang di dalam angkot. Mainan Hape sambil ngelamun. Kemudian beberapa menit ada angkot Keluarga nge-lakson di belakang angkot yang saya tumpangi, dan kondekturnya menyuruh saya pindah ke Keluarga sahaja. Yaaahhhh ...
*
Angkot alias angkutan kota. Terkadang meninabobokan saya hingga terlelap beberapa menit di dalamnya. Dan ketika bangun, saya hanya menahan malu mendapati beberapa pasang mata tersenyum ke arah saya.
Oh angkot, meskipun benar kata Pak Amin bahwa kebanyakan kamu sudah lumayan reot, tetapi mungkin saya bisa jadi penumpang setiamu selama saya sekolah. Entahlah, apakah ketika lulus saya juga akan tetap begitu. Tetapi perlu kamu tahu, bahwa menjadi juragan kamu yang layak tumpang ialah salah satu cita-cita saya. Sekaligus, mengubah presepsi Pak Amin tentang angkot. :-)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar