Categories

Rabu, 08 Mei 2013

U-eN






Menonton berita di televisi akhir-akhir ini mengenai tidakmulusnya kelangsungan Ujian Nasional SMA/K/Sederajat membuat rasa takut di hati saya tersulut. Dalam hati sebenarnya saya bersyukur sebab saya bukanlah peserta UN tahun 2013. Tetapi lantas saya berpikir, jika tahun ini saja UN menempuh banyak kendala, akankah UN tahun depan (saya UN tahun depan) akan mampu diperbaiki atau justeru akan ada lebih banyak kendala lagi alias lebih buruk? Semoga tidak.

Dari banyak status facebook, saya membaca kekecewaan mereka. Peserta UN tahun ini banyak yang mengeluhkan LJUN yang kurang layak untuk dikaitkan dalam even nasional ini. Bahkan beberapa dari mereka menilai bahwa LJUN yang terselip di buku-buku latihan UN mereka justeru lebih nyaman dipakai daripada LJUN dari pemerintah. LJUN tipis, mudah lecek, begitu saya membaca. Bukan hanya itu, sepertinya ada banyak lagi keribetan yang menemani peserta UN tahun ini.

Sebenarnya dari awal, dari sejak saya mengetahui bahwa UN tahun 2013 memakai barcode, saya sudah merasa takut. Ribet sekali sepertinya. (Dan meski di dalam hati lagi-lagi saya bersyukur sebab saya bukanlah peserta UN tahun ini) Meskipun iya, semua aturan yang saya nilai ribet itu pastilah sebabnya pemerintah menginginkan hasil yang terbaik dari generasi muda Indonesia. Namun menurut saya, apabila pemerintah memang menginginkan kemurnian dalam pengerjaan soal UN (yang terbaik), bukanlah paket yang diberbanyak. Satu kelas satu paket pun sebenarnya bisa (menurut saya), ASALKAN pengawas UN tidak memakan gaji buta, alias benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai pengawas UN yakni mengawasi peserta UN dengan ketat agar tidak terjadi kecurangan. Karena bisa saja yang terjadi beberapa adalah pengawas membiarkan peserta UN saling bertanya. Parahnya lagi apabila pengawas UN malah tertidur di mejanya. Zzz ... :-D Ini bisa berakibat buruk walaupun paket soal lima puluh sekalipun.

Kalau dari pengawas saja sudah baik sepertinya baiklah semuanya. Namun apa? Dari beberapa tahun lalu, pemerintah terus saja memperbaharui paket UN. Dari satu paket, dua paket, lima paket, sekarang dua puluh paket. Kenapa? Karena pemerintah masih merasa curiga kepada pemuda/i bangsanya dalam mengerjakan soal UN, kah? Yang apabila dikembalikan berarti karena pemerintah kurang percaya kepada pengawas UN.

Menurut saya sih kebanyakan paket justeru akan membuat peserta panik walaupun pengawasnya leyeh-leyeh. Sedangkan apabila paket hanya satu, peserta sepertinya bisa mengerjakan UN dengan tenang meskipun pengawasnya selalu awas mengawasi. Tetapi yak ini ,,, hmm ... Bisa jadi UN tahun depan malah dua ratus paket soal meskipun yaa ... dengan pengawas yang kurang ketat. Dan keribetan itu akan semakin ribet. Moga saja sih tidak.

Ah, saya sebagai calon peserta UN tahun depan merasa was-was sekali dengan ini. Saya hanya bisa berdoa semoga hasil UN tahun ini lebih baik dari tahun lalu meksipun ada banyak kendala di sana-sini. Semoga semua kendala itu dapat teratasi dan tidak perlu terulang untuk UN tahun depan. Sebab, saya UN tahun depan dan saya banyak menggantung harap kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages