Categories

Senin, 22 Juli 2013

Pagi: Dua Suara dari Balik Pintu


Oleh Riska Nur Sagita

            Miris Pintu meringis. Pada bulan Ramadhan ini, dua buah suara dari balik depan-belakangnya beradu lantang setiap pagi. Suara yang memiliki arti bahkan berseberangan. Tapi tentunya Pintu lebih ingin mendengarkan suara dari belakang, namun apa daya? Wajahnya kan utuh menghadap ke depan, kecuali jika Pintu ditepikan sebagai tanda ‘boleh masuk’.
            Pelataran luas masjid At-Taqwa dipenuhi oleh bocah-bocah usia sekolah yang kebanyakan ialah laki-laki. Selepas meraupkan tangan ke wajah sebagai tanda usai salat subuh tadi mereka semua memang gegas menuju halaman masjid. Bukan untuk menyaksikan secara langsung terbitnya matahari bulan Ramadhan, melainkan untuk bermain-main. Keseluruhan mereka berlomba paling keras meledakkan mercon yang tentu sebelumnya telah mereka selipkan di balik kantong celana secara diam-diam supaya tidak ketahuan ibu. Orangtua akhirnya tak kuasa melarang, karena hal ini memang menjadi kesenangan sendiri bagi anak-anak mereka di bulan Ramadhan.
            Duaarrr … Duaaarrr …
            Lapangan masjid bergetar. Anak-anak penabuh tertawa. Sebagian anak perempuan menjerit-jerit ketakutan, dan itu ialah memang hasil yang anak laki-laki harapkan. Suasana di depan Pintu yang cukup ramai dan sedikit lucu.
            A’udzubillaahiminassyaitoonirrojiim … Bismillaahirrahmaanirrahiim …

            Suara indah dari belakang pintu mulai beralun. Pintu memejamkan mata dan mengelus dadanya. Tenang. Satu-dua, intinya bisa dihitung dengan jari, anak berpeci menghadap alquran. Menderaskan ayat alquran di tengah suara-suara tawa dan ledakan mercon dari arah berlawanan.
            Saat-saat seperti ini ialah yang paling mengacaukan, di mana suara dari balik pintu sama-sama beralun. Sebenarnya beradu mana yang paling lantang, tetapi tak perlu diukur lagi suara dari depan pintu bahkan bisa terdengar dari jarak satu kilometer. Kehikmadan Pintu dalam meresapi setiap huruf yang menjanjikan sepuluh kebaikan itu pun terganggu. Pintu geram, juga bingung.
            Namun, kebingungan Pintu teratasi ketika matahari mulai naik, dan satu per satu anak-anak penabuh mercon itu menatap nelangsa bangkai merconnya, memilih pulang ketika sebagian masih bermain-main, untuk kemudian mengadu kepada bapaknya agar dibelikan mercon (lagi) yang sama atau yang lebih keras ledakannya. Sementara, anak-anak pengalun ayat masih berkutat dengan alquran. Mencoba mencapai target juz yang ditetapkan. Masih.
            Dan dua suara besok akan kembali lagi.[*]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages