Oleh Riska Nur Sagita
Miris Pintu meringis. Pada bulan
Ramadhan ini, dua buah suara dari balik depan-belakangnya beradu lantang setiap
pagi. Suara yang memiliki arti bahkan berseberangan. Tapi tentunya Pintu lebih ingin
mendengarkan suara dari belakang, namun apa daya? Wajahnya kan utuh menghadap
ke depan, kecuali jika Pintu ditepikan sebagai tanda ‘boleh masuk’.
Pelataran luas masjid At-Taqwa
dipenuhi oleh bocah-bocah usia sekolah yang kebanyakan ialah laki-laki. Selepas
meraupkan tangan ke wajah sebagai tanda usai salat subuh tadi mereka semua
memang gegas menuju halaman masjid. Bukan untuk menyaksikan secara langsung
terbitnya matahari bulan Ramadhan, melainkan untuk bermain-main. Keseluruhan
mereka berlomba paling keras meledakkan mercon yang tentu sebelumnya telah
mereka selipkan di balik kantong celana secara diam-diam supaya tidak ketahuan
ibu. Orangtua akhirnya tak kuasa melarang, karena hal ini memang menjadi
kesenangan sendiri bagi anak-anak mereka di bulan Ramadhan.
Duaarrr … Duaaarrr …
Lapangan masjid bergetar. Anak-anak
penabuh tertawa. Sebagian anak perempuan menjerit-jerit ketakutan, dan itu
ialah memang hasil yang anak laki-laki harapkan. Suasana di depan Pintu yang
cukup ramai dan sedikit lucu.
A’udzubillaahiminassyaitoonirrojiim
… Bismillaahirrahmaanirrahiim …
Suara indah dari belakang pintu
mulai beralun. Pintu memejamkan mata dan mengelus dadanya. Tenang. Satu-dua,
intinya bisa dihitung dengan jari, anak berpeci menghadap alquran. Menderaskan ayat
alquran di tengah suara-suara tawa dan ledakan mercon dari arah berlawanan.
Saat-saat seperti ini ialah yang
paling mengacaukan, di mana suara dari balik pintu sama-sama beralun. Sebenarnya
beradu mana yang paling lantang, tetapi tak perlu diukur lagi suara dari depan
pintu bahkan bisa terdengar dari jarak satu kilometer. Kehikmadan Pintu dalam
meresapi setiap huruf yang menjanjikan sepuluh kebaikan itu pun terganggu.
Pintu geram, juga bingung.
Namun, kebingungan Pintu teratasi
ketika matahari mulai naik, dan satu per satu anak-anak penabuh mercon itu menatap
nelangsa bangkai merconnya, memilih pulang ketika sebagian masih bermain-main, untuk
kemudian mengadu kepada bapaknya agar dibelikan mercon (lagi) yang sama atau
yang lebih keras ledakannya. Sementara, anak-anak pengalun ayat masih berkutat
dengan alquran. Mencoba mencapai target juz yang ditetapkan. Masih.
Dan dua suara besok akan kembali
lagi.[*]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar