—Kakak,
saat ini ialah malam fitri pertama yang akan aku lewati tanpa dirimu—
Malam ini, mereka menghias langit dengan payung-payung kembang api lagi. Sama
seperti ramadhan-ramadhan yang lalu ...,
Kakak,
dari sudut kamar kuningku, telingaku bisa menangkap letusan semerbak itu. Letusan
yang membuatku meringis dan tanganku serempak menyumbat telinga ketika yang
lain bersorak bahagia. Percikan warna kembang api sempat selalu mampir di
jendela kamarku. Menyapaku, seolah mengajak keluar. Aku pikir kembang api
merindukanku, Kakak.
Kakak,
terserah kamu akan mengataiku pengecut atau apa. Bahkan silakan. Meski kematianmu tidak ada
sangkut-pautnya dengan kembang api, tapi bagiku petasan dan kembang api itu sama
saja. Mereka yang memaksamu keluar malam itu.
Maka
Kakak, izinkan aku untuk tidak keluar malam ini …,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar