Categories

Rabu, 07 Agustus 2013

Malam Lebaran


—Kakak, saat ini ialah malam fitri pertama yang akan aku lewati tanpa dirimu—

Malam ini, mereka menghias langit dengan payung-payung kembang api lagi. Sama seperti ramadhan-ramadhan yang lalu ...,

Kakak, dari sudut kamar kuningku, telingaku bisa menangkap letusan semerbak itu. Letusan yang membuatku meringis dan tanganku serempak menyumbat telinga ketika yang lain bersorak bahagia. Percikan warna kembang api sempat selalu mampir di jendela kamarku. Menyapaku, seolah mengajak keluar. Aku pikir kembang api merindukanku, Kakak.
Kakak, tapi malam ini aku tidak akan keluar dari kamar kuning. Kepada jasadmu aku telah berjanji untuk berusaha membenci kembang api selama-lamanya. Maafkan aku, Kakak. Aku pun masih ingat, bahwa sebelumnya kau telah memintaku berjanji untuk menyukai kembang api selama-lamanya. Tenanglah, Kakak, sedikitpun aku masih suka kembang api, namun jika diletuskan bukan pada waktu gelap.

Kakak, terserah kamu akan mengataiku pengecut atau apa. Bahkan silakan. Meski kematianmu tidak ada sangkut-pautnya dengan kembang api, tapi bagiku petasan dan kembang api itu sama saja. Mereka yang memaksamu keluar malam itu.

Maka Kakak, izinkan aku untuk tidak keluar malam ini …,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages