Categories

Kamis, 08 Agustus 2013

Salam Tempel untuk Anak Kecil


Teman-teman Blogger, pernahkan Anda mendapati dua orang yang berjabat-tangan dimana salah satu di antara mereka sekalian mengangsurkan selembar uang kepada lawan jabat-tangannya? Tanpa mengulangi bersentuhan tangan, lalu mereka tertawa dan yang dikasih mengucap terima kasih. Yang demikian itu dinamakan salam tempel.
Salam tempel. Salam tempel biasanya banyak didapati pada tempat-tempat hajatan dan akan lebih banyak lagi ketika hari yang fitri tiba, seperti hari ini. Salam tempel biasanya melibatkan anak-anak kecil dimana hal ini menjadi alasan kuat mereka untuk bersilaturahim. 

Saya ingat, dulu saya pernah berlebaran di Jakarta. Waktu itu saya mengikuti teman-teman saya berkunjung ke rumah-rumah tetangga dengan tujuan satu; salam tempel. Dan sungguh, ternyata setiap rumah mereka menyediakan salam jenis ini. Pada hari itu 'tempelan' yang saya dapat lebih dari lima puluh ribu. Bagi saya ini pencapaian yang luar biasa mengingat ketika di kampong, menjumlah sepuluh ribu pada hari lebaran pun sudah termasuk banyak. Hehe. Itu dulu, waktu saya kecil.

Sekarang, jika dipikir lagi, salam tempel kok sepertinya merendahkan silaturahim ya? Maksudnya begini, niat awal bersilaturahim tertutup oleh niat mendapat salam tempel. Miris sekali. Jujur, dulu waktu kecil saya juga belum mengerti arti silaturahim sebenarnya. Saya hanya mengikuti teman-teman berjabat-tangan, bahkan kepada mereka yang belum saya kenal. Berarti dalam hati tidak ada niat maaf-memaafkan. Hanya ada kesenangan tersendiri ketika dapat mengumpulkan uang banyak. Haha. Dan kalau itu terjadi dewasa kini, dimana gundukan dosa juga kian tinggi, akan lebih memiriskan lagi.

Salam tempel memang hanya cocok untuk anak kecil di mana-mana. Karena mereka masih polos, karena mereka masih suka bermain-main, masih tidak menyembunyikan amarah. Juga, untuk memotifasi mereka terkhusus melatih bersosialisasi meski dengan niat yang keliru. Untuk orang remaja atau dewasa, salam tempel bisa didapat dengan bekerja sendiri atau meminta orangtua bukan pada hari yang fitri agar tidak mengotori hari itu.

Hm ... Membayangkan bagaimana nanti jika saya dapat salam tempel, sepertinya sedikit memalukan dan baiknya ditolak, tetapi jika menolak pun tidak enak. Jadi, bagaimana dong? *siapa juga yang mau ngasih lu tempelan?* haha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages