Categories

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rawaheng

Pasca hari raya idul fitri, di desaku ada fenomena unik yang dibikin sendiri oleh sebagian warganya. Ia adalah, banyak orang serempak menggelar hajatan.
Seperti hari ini saja, baru dua hari Ramadhan pamit, empat kepala kompak membangun tenda besar di depan rumah mereka dalam rangka; ada yang pernikahan, ada yang khitan. Sempurnalah kemana-mana kupingku nangkep lagu-lagu campursari, sebagai cirri khas ketika suatu hajatan dihelat. Belum lagi untuk besok, dan besoknya.
Ini bukan lagi perbincangan hangat memang di desaku, sebab telah menjadi kebiasaan setiap tahunnya. Hanya akan kaudapati keluhan dari beberapa warga yang menyadari bahwa ternyata persediaan beras di gudangnya kian tipi,s terlebih selepas zakat. Bagi si Penghelat, memilih saat ini sebagai waktu yang tepat untuk menggelar hajatan ialah barangkali mengira bahwa masih ada sisa-sisa THR untuk dijadikan uang selip kondangan, atau malah rencana memang baru dibuat pada bulan Ramadhan? Aku entah.
Tapi sebagai tetangga yang baik, mamaku rajin kondangan dong. Padahal mamaku nggak berniat menggelar ‘hajatan’ suatu hari nanti. Biasanya kan balas-balasan begitu ya kalau ada orang hajatan. Lha mamaku mau dibalas untuk apa? Anaknya cuma satu, puteri pula. Kata mama, suatu hari nanti kalau aku nikah nggak ada yang namanya ;mbaranaggawe’ sebab even itu Cuma bikin riweuh. Haha, nasip!
Oh ya, salah satu yang hajatan ahri ini kediamannya di belakang rumahku. Dari pagi tadi lagu campursari melulu yang diputar. Aku nonton teve pun jadi nggak enak karena suaranya balapan sama suara tape hajatan. Haha Oke deh, ngetik ini juga konsentrasinya jadi pecah disambi ngapal lagu campursari sih. Wkwk. Hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages