Oleh Riska Nur Sagita
Suatu malam dia pernah datang mengendap-endap ke rumahku. Tatkala aku membukakan pintu dan terbelalak kaget, dia membekap mulutku hingga aku menyerah—mengangguk diam. Kemudian, buru-buru dia masuk setelah sibuk menoleh ke kanan-kiri-belakang, memastikan tidak ada orang barangkali.
Suatu malam dia pernah datang mengendap-endap ke rumahku. Tatkala aku membukakan pintu dan terbelalak kaget, dia membekap mulutku hingga aku menyerah—mengangguk diam. Kemudian, buru-buru dia masuk setelah sibuk menoleh ke kanan-kiri-belakang, memastikan tidak ada orang barangkali.
“Aku sedang bersembunyi.” Dia melepas sepasang sepatu putihnya yang kini berubah belang, lalu mendongak ke arahku yang membawakan secangkir teh untuknya.
“Memang itu hobimu,” kataku seraya meloloskan cangkir ke meja.
“Tapi kali ini lain.” Dia meraih cangkir teh hangatnya.
Rupanya pelariannya cukup menguras tenaga, hingga teh yang kuseduh dalam cangkir besar itu tak sampai satu menit sudah beralih ke perutnya. Tandas. Aku menelan ludah.
Dia mengusap bibirnya puas, menoleh kanan-kiri—ini memang kebiasaannya, seolah takut ada yang mengikuti—,lalu condong ke arahku. “Kuberitahukan satu rahasia padamu.”
“Rahasia apa?”
“Tentang siapa yang mengejarku,” jawabnya sok serius
Dahiku berkerut.
“bukan, bukan manusia.” Dia menggeleng.
“Lalu?’ Aku memundurkan wajahku.
Dia kembali menoleh ke kanan-kiri.
“Dia ada di sini.”
“Siapa?”
“Malaikat maut.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar