Ramadhan melambaikan kuning senja terakhirnya. Sekumpulan burung sore penuh hati mengantarkannya kepada gerbang perjalanan. Aku, duduk beratapkan dedaun pohon trembesi dililit hujan penutup hari, memandang Ramadhan yang mengangguk ikhlas akan menempuh perjalanan untuk kembali lagi kepada kita tatkala angka tiga menetas. Selamat jalan, Ramadhan. Sampai Jumpa.
*
Kebanyakan dari kita barangkali tidak pernah terpikirkan untuk memando maaf kepada jiwa yang satu ini. Dia bukanlah jiwa yang ber’jiwa’, bukan pula jiwa yang abadi. Namun, dia selalu memberikan arti. Bahkan dialah yang mengantar kita kepada hari ini. Dia ialah, seutuh bulan bernama Ra-ma-dhan.
Untuk apa kita perlu meminta maaf kepada Ramadhan? Cukup hati masing-masing kita yang tahu, apabila kita seorang muslim dan tidak merasa memaksimalkan bulan suci itu pada tahun ini.
Dan satu lagi, Ramadhan itu kan datangnya dari Allaah. Tidak pula lupa memohon maaf kepada-NyA, Pemilik Kita Semua dan bulan Ramadhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar