Categories

Kamis, 08 Agustus 2013

Maafkan aku, Ramadhan

Ramadhan melambaikan kuning senja terakhirnya. Sekumpulan burung sore penuh hati mengantarkannya kepada gerbang perjalanan. Aku, duduk beratapkan dedaun pohon trembesi dililit hujan penutup hari, memandang Ramadhan yang mengangguk ikhlas akan menempuh perjalanan untuk kembali lagi kepada kita tatkala angka tiga menetas. Selamat jalan, Ramadhan. Sampai Jumpa.
*                                      
Hari ini, telaga-telaga hati pun langit-langit, membiru haru oleh suatu kata penyejuk hati’ Maaf(kanlah). Penanda luruhnya seluruh dosa umat muslim hingga kembali terpandang layaknya bayi yang polos. InshaaAllaah. Dan aku turut andil dalam semua itu. Memohon serta memberikan maaf, meski kepada ketulusan masih selalu perlu dipertimbangkan. Namun, setidaknya semua dari kita pernah tanpa ragu mengucapkannya kepada sesama manusia, bukan? Dan, menurut jiwa yang sendu sepertiku ini, bukanlah hanya kepada manusia kita mesti melantunkan kata ‘maaf(kanlah)’.

Kebanyakan dari kita barangkali tidak pernah terpikirkan untuk memando maaf kepada jiwa yang satu ini. Dia bukanlah jiwa yang ber’jiwa’, bukan pula jiwa yang abadi. Namun, dia selalu memberikan arti. Bahkan dialah yang mengantar kita kepada hari ini. Dia ialah, seutuh bulan bernama Ra-ma-dhan.
Untuk apa kita perlu meminta maaf kepada Ramadhan? Cukup hati masing-masing kita yang tahu, apabila kita seorang muslim dan tidak merasa memaksimalkan bulan suci itu pada tahun ini.

Dan satu lagi, Ramadhan itu kan datangnya dari Allaah. Tidak pula lupa memohon maaf kepada-NyA, Pemilik Kita Semua dan bulan Ramadhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages