Sejak jalan 0.facebook diblokir secara sadis oleh Telkomsel, saya jadi kesulitan menemukan akses masuk menuju jejaring social berlogo biru tua itu. Ada sih jalan lain, m.facebook misalnya. Namun tidak seperti 0.facebook yang selalu ‘puasa’, m.facebook doyan sekali makan pulsa saya sedikitnya dua hari tiga ribu rupiah untuk 12 MB. Memang sih keuntungannya saya bisa melihat image, tapi sebenarnya saya tidak terlalu butuh fasilitas gambar itu.
Padahal saya adalah facebooker akut. Satu hari saja tidak membuka facebook itu rasanya ada yang kurang.Dan sejak Zero menghilang, sempurnalah tiap harinya saya cuma bisa menggaruk-garuk tangan. Untuk membeli paket tadi itu paling satu minggu sekali, mengingat kartu perdana saya yang minim gratisan, juga minim pulsa. Hehe.
Kautahu? Facebook bagi saya bukan sekadar jejaring social tempat update status, tapi lebih dari itu. Di facebook, saya bisa memungut ilmu kapanpun saya mau. ‘Mereka’ senantiasa mengetuk pintu beranda saya, sebab, saya banyak berteman dengan orang-orang yang pandai juga rajin me-suka fanpage-fanpage pendidikan. Saya bahkan sering bertanya kepada mereka—guru-guru saya di facebook, tentang apapun yang tentunya bermanfaat. Meski di facebook juga saya menemukan beberapa hal absurd.
Tidak terlalu absurd sih, hal yang saya nilai absurd itu paling cuma nama-nama aneh teman saya. Tak apa memang, karena dulupun nama facebook saya sempat aneh. Saya pikir mereka itu hanya orang-orang yang belum sadar kalau tidak mau dibilang belum waras. Pisss … hehe. atau inbox gaje dari orang-orang ganjen. Kalau masalah inbox sih unfriend aja langsung.
Tapi terlepas dari segala keabsurdannya, saya akui bahwa facebook telah memberi saya banyak sekali manfaat. Pokoknya facebook is the best social media, tidak ada tandingannya. Hanya saja sekarang saya tidak bisa bermain bersama facebook setiap hari.
Saya sudah beli memang kartu yang iklannya menjanjikan internet gratis selama sebulan penuh, tapi sedihnya ternyata kartu itu hanya bisa mengantar saya sampai beranda facebook dikarenakan nona signal selalu bersembunyi.
Ah, facebook, kenapa menujumu kini susah sekali ya? Aku benar-benar kangen! Sudah satu minggu lebih aku hanya bisa menengokmu dari beranda. Tulisan ini yang seharusnya dipublish di catatan facebook pun terpaksa saya pindah ke blog ini. Hiks …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar