Categories

Jumat, 14 September 2012

Hari Pertama MOS

Hari Pertama MOS


Oleh : Riska Nur Sagita


“Besok kalian tetap pakai seragam merah putih. Bawa tas yang terbuat dari kardus dan ditulisi nama kalian di depannya. Nggak boleh bawa tas biasa. Harus dan hanya bawa tas kardus. Terserah mau dibikin tas kayak apa, yang penting bahannya kardus.”
Para peserta MOS langsung galau begitu mendengar lima kalimat pertama dari isi pidato itu. Mereka riuh menumpahkan kegalauannya dengan kata-kata. Dengan terpaksa sang ketua panitia MOS menghentikan pidatonya—memberi ruang untuk para peserta MOS bergalau ria.

 “Aduh, gimana cara bikin tas kardus?” keluh salah seorang peserta sembari menulis ‘1. TAS KARDUS’ pada secarik kertas di pangkuannya.
“Aku nggak tahu, palingan aku juga minta dibikinin sama Bapak,” jawab peserta yang lain menutup pembicaraan. Mereka lalu kembali menyimak pidato dari ketua panitia MOS. Tampak kegalauan tersirat pada raut wajah polos mereka.

Besok adalah hari pertama Masa Orientasi Siswa di SMP Purnama. Para peserta jelas dibuat pusing oleh semua hal yang berkaitan dengan persiapan MOS. Bagaimana tidak? Baru kali ini mereka akan mengikuti kegiatan super ribet di sepanjang sejarah persekolahannya.
 Kebanyakan dari mereka sibuk mengeluh. Berbeda sekali dengan seorang anak perempuan yang duduk di bawah ring basket. Di saat teman-temannya yang lain meributkan, dia hanya diam sembari terus mencatat segala persiapan. Namanya Cika, anak perempuan yang belum mendapatkan teman di sekolah barunya itu.

Panitia MOS melanjutkan kembali pidatonya di mimbar lapangan, “Pakai sepatu hitam dan kaos kaki selen. Kaki kanan pakai kaos kaki hitam, kaki kiri pakai kaos kaki putih. Untuk perempuan, rambutnya dikuncir dua pakai tali warna-warni.”
Jeda. Semua masih diam.

“Bekalnya kalian bawa air putih biasa, Minuman Bencana, Dodol Sapi, Cokelat Jerawatan, dan Teletubies Cari Keringat.”
Kembali lapangan belakang SMP Purnama seolah dipenuhi oleh lebah-lebah haus madu begitu mendengar frasa-frasa aneh itu. Ada-ada saja. Sedangkan para panitia hanya tersenyum memaklumi keributan itu.

“Hah? Emang ada, Kak, jajanan kayak gitu?” teriak Bimbo, Si Anak Pemilik Toko Jajanan terbesar di kecamatan. Barangkali dia merasa tidak pernah melihat nama jajanan itu di tokonya.
“Ingat ya, semua itu kiasan. Kalian cari artinya sendiri. Jangan lupa untuk datang tepat waktu dan membawa serta memakai semua persiapan secara lengkap. Sebab yang datang terlambat dan tidak lengkap akan dikenai  sangsi berupa memunguti sampah sebanyak satu keranjang di lapangan.
Cukup itu saja dari kami. Jika ada pertanyaan segera hubungi panitia. Selamat bersiap-siap,” ucap ketua panitia MOS menutup pidatonya lalu turun dari mimbar. Semua peserta bangkit dari duduk dan memulai menumpahkan kegalauannya lagi dengan kata-kata di sepanjang perjalanan pulang.
“Aduh, MOS kok begini banget,”

“Iya nih, usil aja. Pas masuk SD dulu nggak ada kayak beginian.”
Cika melangkah gontai keluar gerbang sekolah. Teman-temannya sibuk bercakap galau, namun sedari tadi dia hanya dan masih menutup mulut. Jangan salah, sebenarnya dia juga galau.
Hanya saja Cika tengah memutar otak. Dia bingung pada siapa akan meminta bantuan. Dia tidak punya Kakak. Yang dia miliki hanya seorang adik perempuan berusia delapan tahun. ‘Mana bisa ngebantuin? Yang ada Si Amel yang doyan jajan itu malah ngganggu,’ ucapnya dalam hati begitu mengingat adiknya, Amel.

‘Ah. Bapak sama Ibu pastilah sibuk kerja,’ tambahnya lagi dalam hati.
*
“Assalamualaikum,” Cika mengucap salam begitu sampai di depan rumah. Lekas dia melepas sepatu dan kaos kakinya. Lalu berjalan memasuki rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
“Wa’alaikumussalam, Kak,” jawab Amel--yang saat itu tengah menonton acara kartun kesayangannya di ruang tamu dengan ditemani lima bungkus chicki--sembari bola matanya menyambut kedatangan Cika.

Cika, dengan wajahnya yang kusut langsung menyelonong ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Menelanjangi langit-langit kamarnya sembari memikirkan persiapan untuk MOS besok. Tas bergambar burung merah masih melekat di punggungnya--terjepit di antara kasur dan tubuh Cika.
Amel yang melihat Kakaknya tampak kusut langsung menyusul Cika ke kamar ketika tayangan kartun kesayangannya dijeda oleh iklan.

“Kakak kenapa?” tanya Amel begitu sampai di pintu kamar. Mulutnya sedikit penuh oleh jajanan.
Cika lantas bangkit dari tidurnya. Merogoh sesuatu di saku rok merahnya. Dia sodorkan secarik kertas untuk Amel tanpa bicara.

DAFTAR PERSIAPAN MOS :

  1. 1.      TAS KARDUS
  2. 2.      SEPATU HITAM
  3. 3.      KAKI KANAN KAUS KAKI HITAM
  4. 4.      KAKI KIRI KAUS KAKI PUTIH
  5. 5.      RAMBUT DIKUNCIR DUA PAKAI TALI WARNA-WARNI
  6. 6.      MINUMAN AIR PUTIH BIASA
  7. 7.      MINUMAN BENCANA
  8. 8.      DODOL SAPI
  9. 9.      COKELAT JERAWATAN
10.  TELETUBIES CARI KERINGAT

“Ini apa, Kak?” tanya Amel begitu selesai membaca kesepuluh persiapan aneh itu.
“Itu semua barang yang mesti Kakak bawa dan pakai besok buat MOS. Yang nomor tujuh sampai terakhir itu nama jajanan, tapi kiasan. Mana ada jajan namanya kayak gitu, kan? Tapi Kakak juga nggak tahu itu jajanan apa---” jelas Cika dengan wajah manyun. Dia lalu bergegas keluar kamar.
“Kakak mau cari tali warna-warni dan kardus di gudang,” pamit Cika.
Sementara Amel diam-diam berpikir ingin membantu Kakaknya memecahkan misteri nama-nama jajan itu.

*
Cika tengah dengan sangat hati-hati melipat-lipat kardus agar bisa menjadi tas impiannya. O, bukan. Lebih tepatnya tas impian panitia MOS karena seratus persen dia sama sekali tidak menginginkan tas seperti itu---terbuat dari kardus.
Sementara Amel, adiknya, tiga puluh menit yang lalu pamit ke warung.
“Mau bantu Kakak cari jajan,” katanya sebelum pergi. Cika hanya tersenyum meremehkan niat baik adiknya itu. Buktinya sudah setengah jam pergi, Amel belum juga kembali.
‘Halah, pasti dia mampir main.’ Terka Cika dalam hati setelah sebelumnya sempat berharap adiknya akan serius membantu.

Sudah kardus ketiga Cika sentuh. Dua kardus sebelumnya telah sukses membuatnya kecewa lantaran selalu saja rusak. Maklum, Cika mengerjakan ini semua tidak dengan hati, melainkan dengan emosi. Dan pada kesempatan ketiga ini Cika tidak mau gagal lagi. Dengan awas dia mengerjakan semuanya hingga akhirnya---

 “SELESAI!!!” Cika berteriak senang begitu selesai mengelem lipatan kardus terakhir.  Tas kardus eksperimen ketiganya telah jadi. Dengan perasaan takut kalau-kalau dibuat kecewa lagi, Cika mengamati setiap sisi tas kardus itu.

“Yaaahhh …” Cika kembali melemas begitu mendapati sobekan pada salah satu sisi tas kardusnya. Dengan sedih Cika mengelus-elus sobekan itu. Bersamaan dengan itu, Amel datang, “ Assalamualaikum,” ucap Amel ketika memasuki rumah.
“Wa’alaikumussalam,’ jawab Cika tak berdaya.

“Lho? Bikin berapa memangnya, Kak?” tanya Amel yang kaget begitu melihat tiga tas kardus termasuk yang sekarang sedang Cika pegang. Amel mengambil salah satu tas kardus itu lantas mengamatinya.
“Sobek besar.” Kata Amel lalu mengambil yang lain dan mengamatinya lagi, “Sobek besar juga.” Lanjutnya. “Sobek besar semua, Kak?” tanya Amel heran.

Cika tidak menjawab. Dia membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Sedih.
“Tenang, Kak. Amel akan bantu Kakak semaksimal Amel bisa,” kata Amel sembari mengelus rambut kepala Kakaknya. Amel lalu sadar akan apa yang didapatkannya selama pencarian lebih dari tiga puluh menit itu. Tas bergambar burung di punggungnya langsung dia turunkan lalu dia membuka dan merogoh salah satu kantung tas itu.

“Tarrraaaa … Amel dapat Minuman bermerk Tornado, Sosis Rasa Sapi, dan jajan BingBeng,” teriak Amel bangga. Cika langsung mengangkat wajahnya lantas tersenyum senang. Dia berpura-pura bingung untuk memancing penjelasan dari Amel.

“jadi, Minuman Bencana itu Minuman bermerk Tornado, Dodol Sapi itu Sosis Rasa Sapi, dan Cokelat Jerawatan itu jajan BingBeng yang ada krispinya.” Amel menunjuk satu persatu jajanan di pangkuannya itu dengan penuh semangat, sementara Cika mulai merasakan keganjilan.
“kesemuanya ini adalah jajanan kesukaan Amel, maka nggak heran kalau Amel tahu,” tambah Amel bangga.

“Tapi kayaknya ada yang kurang deh, Mel,” Cika serius.
“Iya, Kak. Untuk Teletubies Cari Keringat Amel nggak berhasil tahu. Makanya Amel lama soalnya nyari yang satu itu,”

‘Ya udahlah, setidaknya sudah separuh dari barang-barang yang mesti dipakai dan dibawa udah siap.’ Ucap Cika dalam hati.
“Tapi---Amel boleh minta jajan BingBengnya ya?” Amel berkedip-kedip.
“Hah? Jaannnggggaaaannnn …” seru Cika ketakutan sembari merengkuh semua jajan itu.

*
Lapangan belakang SMP Purnama pagi ini dipenuhi oleh para peserta MOS dengan kostum yang cukup membuat ngakak siapa pun yang melihat. Sementara para pesertanya sendiri sedari tadi sibuk mengeluh. Para panitia sibuk mengabsen dan memeriksa barang bawaan serta penampilan setiap peserta yang berregu sesuai kelasnya. Mereka berbaris dengan rapi. Raut-raut wajah polos itu sangat lucu jika diperhatikan dengan seksama.

Mengendap-endap Cika memasuki barisan kelas tujuh F. Sudah terlambat sepuluh menit, itu yang dia tahu. Namun seorang Kakak panitia sudah terlebih dahulu melihatnya sebelum Cika benar-benar memasuki barisan.
“Hei, kamu!”
Cika menoleh ke arah sumber suara lantas nyengir kuda.
“Sini, Siska!” panggil Kakak panitia yang berwujud seorang cowok dekil begitu melihat nama yang tertulis di tas kardus milik Cika ‘Siska Alya E.’ Perlahan Cika melangkah, menghampiri Kakak panitia itu di depan barisan.

“Nama panggilan saya Cika, Kak,” ucap Cika berani.
“O, baiklah. Kenapa kamu terlambat, Cika?” Pada kata ‘Cika’ Kakak panitia menekan suaranya.
“Tadi saya menambal tas kardus saya yang sobek dulu, Kak,” jawab Cika masih berani.
“O, begitu. Kamu tahu kan hukuman bagi siapa saja yang terlambat datang?”
“Nggak,”
Teman-teman di belakang langsung riuh begitu mendengar jawaban dari Cika. Entah karena kepolosan atau karena keberaniannya.

“Memang benar tak patuh aturan kau! Hukumannya adalah, kamu harus memunguti sampah sebanyak satu keranjang ini!” Kakak panitia itu menaruh satu buah keranjang berbentuk tabung dengan diameter tiga puluh sentimeter dan tinggi dua puluh sentimeter itu di hadapan Cika. Cika melongo dibuatnya. Namun tak lama, karena dia pun akhirnya sadar bahwa di lapangan SMP Purnama memang banyak sampahnya. ‘Jadi, untuk mendapatkan sampah sebanyak keranjang itu tak perlu susah.’ Pikirnya

Lekas Cika meraih keranjang itu sebelum akhirnya Kakak panitia kembali berkata, “Eits, tunggu!” Cika kontan meletakkan keranjang itu di tempatnya lagi.
“Ada apa lagi, Kak?”
“Saya mau ngecek persiapan kamu dulu,”
Kakak panitia itu mengamati penampilan Cika dari atas hingga bawah sebelum akhirnya mengangguk.
“lengkap. Sekarang barang bawaannya!” tegas Kakak panitia itu meminta tas kardus milik Cika.
“Nanti saja ya, Kak?”
“Harus sekarang!”

Dengan amat sangat terpaksa Cika melepaskan tas kardusnya. Dia lalu menyerahkan tas kardus yang dibuatnya selama tiga jam itu ke Kakak panitia. Dia sadar akan kesalahannya tidak membawa Teletubies Cari Keringat. Maka Cika hanya bisa berdoa ketika Kakak panitia mulai mengeluarkan satu persatu isi tas kardus miliknya.

Teletubies Cari Keringatnya mana?” tanya Kakak panitia begitu selesai mengobrak-abrik isi tas kardus milik Cika.
“Belum nemu, Kak,” jawab Cika menunduk. Terdengar bisik-bisik dari teman-teman di belakang.
“Diam!” bentak Kakak panitia. Bisik-bisik itu langsung lenyap seketika.
“ya sudah, kamu cari sampah sebanyak dua keranjang ini penuh,” perintah Kakak panitia lalu menaruh satu keranjang lagi. Jadi dua keranjang deh.

“Tapi, Kak, memangnya cuma saya yang melanggar peraturan?”
“Sudah, cepat cari dalam waktu lima menit mulai dari---Sekarang!” tanpa banyak bicara lagi Cika langsung berlari ke tengah lapangan. Terdengar riuh tawa melepasnya.
‘Huh! Masa cuma aku yang melanggar? Mustahil!’ kesal Cika dalam hati sembari memunguti sampah.
Sebagian besar orang mengalihkan pandangannya ke arah Cika. Ini membuat Cika merasa sangat malu. ‘Nanti aku bakal balas Kakak panitia dekil itu,’ rutuknya dalam hati. Selama pencarian sampah itu Cika terus menunduk menahan malu. Benar-benar hanya dia yang dihukum ternyata.
Cika menemukan satu botol minuman yang langsung membuatnya teringat akan Teletubies Cari Keringat. Diambil serta diperhatikannya botol minuman itu hingga sebuah suara membangunkan perhatiannya.

“CIKA, LIMA BELAS DETIK LAGI!” suara Kakak panitia dekil itu ternyata. Cika langsung berlari dengan tanpa sadar ikut membawa botol minuman itu. Pun dia tidak sadar bahwa sampah-sampah yang sudah dia kumpulkan kembali tercecer di lapangan.
Begitu tiba di hadapan Kakak panitia, Kakak panitia malah lekat memandang apa yang Cika genggam.
“Apa, Kak?” tanya Cika heran.

“Kamu nemu Teletubies Cari Keringat?” Cika memandang botol minuman di tangannya. ‘Lalacari Sweat’, begitu tulisan yang tertera di botol minuman itu. Lalacari Sweat? Lala kan salah satu personil Teletubies? Sedangkan Sweat kan---dalam bahasa Inggris---artinya keringat?
“O, iya. Aku dapatttt!!!” seru Cika senang begitu menyadari semuanya.
Peserta MOS lain memusatkan tatapan pada Cika. Ada kaget di raut wajah mereka. Cika yang penasaran dengan ekspresi itu langsung mendekati peserta MOS lain lalu melihat isi tas kardus mereka. Ternyata tidak ada yang membawa Teletubies Cari Keingat. Bahkan beberapa dari mereka ada yang benar-benar membawa dodol sapi. Cika merasa dirugikan.

            “Kak, seharusnya nggak cuma aku yang dihukum donk!” protes Cika.
            “Ya, nanti yang lain juga dihukum kok,” jawab Kakak panitia sedikit gelagapan.
            “Tapi kenapa aku duluan dihukum? Kakak sudah terlanjur buat aku malu nih,”
             “karena Kakak udah nggak berlaku adil, maka sekarang aku akan hukum Kakak.”
             “Hah?
             “Hukumannya adalah---Kakak harus mencari Minuman Daerah Saya di sekitar sini.” Ujar Cika sedikit ragu namun cepat seolah tak membiarkan Kakak panitia itu berkata sekata pun.
             “Hah? Minuman bermerk Myzona maksud kamu?” tanya Kakak panitia.
             “Jangan banyak tanya! Cepat cari! Waktunya dua menit mulai dari---sekarang!” perintah Cika tegas. Semua orang dibuat takjub olehnya.

              Anehnya, Kakak panitia itu langsung berlari terbirit-birit ke tengah lapangan. Padahal kan Minuman Daerah Saya bukan nama kiasan, bukan juga memiliki arti minuman bermerk Myzona. Minuman Daerah Saya ya berarti minuman yang ada di dalam tas kardus milik Cika alias sebotol air putih yang Cika bawa. ‘Baru hari pertama MOS saja udah kayak gini.” Cika berdecak heran.[*]
Selesai …
Rawaheng, 29 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages