Categories

Selasa, 20 November 2012

Episode Pantai


EPISODE PANTAI
Oleh : Riska Nur Sagita

Mei 2012

            Suasana di pantai sore ini kontras sekali dengan biasanya yang sunyi juga suasana hatiku. Di sepanjang pesisirnya bisa kulihat ada banyak orang mematung. Ada raut kesedihan di sana. Sesekali beberapa tatap heran menimpaku yang aku sendiri tidak tahu sebabnya. Pun angin dan ombak ikut-ikutan meramaikan suasana. Angin membikin rambutku seolah ingin melepaskan diri dari kuncir kudanya. Gulungan ombak berhilir melumat bibir pantai, sesekali menyentuh kakikku. Ramai. Berbeda sekali dengan hatiku yang merasa hampa. Hati dan mataku menangis tanpa kusengaja.



Aku,-seperti biasa- tengah menemani Yoan. Dia masih sibuk menyayat pasir dengan ranting-ranting. Menggambar dua bulatan  yang katanya gambar wajah sebelum akhirnya dilengkapi dengan garis-garis sebagai tangan dan kaki.

            "Pada akhirnya, semua yang telah aku gambar akan sirna tersapu ombak. Bahkan tak perlu menunggu besok, hanya dalam menit saja," ucapnya lirih sesekali.

            Aku tersenyum menatapnya sambil sesekali mengusap buliran air di pipi.

            "Kak Lusi, kok gambar orangnya cepet hilang sih? Biasanya nggak begini." Yoan polos menengadahkan wajahnya. Berusaha menggapai wajahku yang satu meter lebih tinggi dari dia (ketika Yoan jongkok dan aku berdiri). Aku hanya tersenyum.

            "ombaknya lagi gede. Hiihhh," tambah Yoan sedikit bergidik.

            Matahari di ujung barat tersenyum pahit. Terpaan ombak membikinku beku. Bisa aku lihat di tengah laut ramai sekali. Ada upaya penyelamatan di sana. Beberapa orang di pesisir tampak beralih ke tempat yang lebih jauh dari bibir pantai. Namun tidak dengan aku. Aku merapatkan jaket. Enggan beranjak dari sini, lagi pula Yoan masih asyik menulis di atas pasir.

April 2012

            "Kaakkk Lusssiiiii ... Tunggu akkkuuu ..." Aku berhenti berlari lantas menoleh ke belakang. Kulihat wajah Yoan dipenuhi raut kekesalan. Haha. Dia terus berlari mengejarku.

            "Ayo, Yo. Kejar Kakaakkk ..." Teriakku. Aku tertawa seraya mulai melangkahkan kaki lagi. Berlari lagi. Kami berlomba meraih badan kapal di pinggir pantai. Siapa yang kalah harus mau membelikan yang menang es kelapa muda. Ya, meski meskipun aku menang, tetap saja aku yang membelikan. Tapi setidaknya aku ingin Yoan berusaha.

            Aku memandang jauh ke depan. Tersenyum pada matahari yang berpamit balik ke peraduan agar menyampaikan kerinduanku pada ayah. Entah di manapun ayah kini berlabuh, pasti kami melihat matahari yang sama kan?

            Setiap sore sepulang sekolah aku dan Yoan selalu seperti ini. Di pantai ini, kami bermain sembari menunggu kapal ayah datang meski entah kapan. Ketika itu, aku dan Yoan bersorak bahagia.

Maret 2012
            Ayahku adalah seorang pelaut.

            "Pelaut yang paling hebat!" kata Yoan suatu ketika sembari memberi jempol untuk ayah yang tengah menggendongnya.

            Awalnya aku dan Yoan memang kurang suka dengan profesi ayah ini. Mengapa harus menjadi pelaut? Menjadi seorang pelaut itu penuh risiko. Ya, memang sih tidak ada satu pekerjaanpun yang luput dari yang namanya risiko. Tapi karena ini, waktu ayah banyak dihabiskan di laut. Selain khawatir akan keselamatan ayah, aku dan Yoan juga harus merasakan kesepian berkepanjangan lantaran aku dan Yoan hanya tinggal berdua di rumah, sebab ibu memang sudah lama meninggal dunia. Yang paling membuatku risi adalah para tetangga yang kadang bilang kalau ayah tak menyayangi kami.

            "Adan jadi pelaut malah anaknya jadi kumuh begitu. Kayak anak terlantar." Samar-samar aku mendengar gunjingan dari mereka tentang ayah.

            Aku hanya diam seolah tak mendengar, padahal jelas telingaku memerah. Namun di dalam hati kecilku, aku sedikit membenarkan pernyataan itu. Ayah tidak menyayangi kami.

            "Lusi, ini semua juga untukmu, untuk Yoan, juga ayah. Untuk kita semua." Jelas ayah ketika kuceritakan padanya tentang keraguanku akan kasihnya.

            "Tapi memangnya tidak ada pekerjaan lain? Yang lebih banyak menyediakan waktu untuk ayah bersama aku dan Yoan."

            "Ini adalah mimpi ayah semenjak kecil. Lusi, ayah janji akan selalu membawakan hadiah untukmu setiap ayah pulang. Ayah menyayangimu dan Yoan."

            Ayah memeluk aku dan Yoan yang hanya melamun melihat aku dan ayah berdebat. Mencium kening kami sebelum akhirnya melenggak keluar rumah. Aku dan Yoan memandang kepergian ayah dari depan rumah. Hadiah? Argh...

            Hari itu merupakan hari pertama ayah melaut dengan ikhlasku. Karena sebelum itu aku benar-benar selalu berat ketika ayah melangkah pergi. Seiring berjalannya waktu, aku semakin tak betah berdiam di rumah ketika ayah pergi. Maka, setiap sore aku selalu mengajak Yoan bermain di pantai seperti saat ini.

April 2012

            “Kakkaaakkk ... Sakkiitttt ..." teriakan Yoan memecah lamunanku. Aku menoleh ke belakang dan kudapati Yoan tengah memegangi lututnya. Seketika aku berlari berlawanan arah (menuju Yoan).

            "Kenapa kau, Dik?" tanyaku ketika sampai di hadapan Yoan. Aku berlutut agar wajahku sejajar dengan wajahnya.

            "Lututku, Kak." Ujar Yoan memelas. Aku tersenyum khawatir seraya membuka tangan Yoan.

            "Aku nggak apa-apa. Yeyeye ..." Yoan tiba-tiba bangkit dan berlari begitu kencang menuju badan kapal yang menjadi tujuan kami sejak tadi. Ternyata dia hanya berpura-pura. Aku yang kesal lantas berusaha mengejarnya. Tawa Yoan masih bisa kudengar dari jarak sepuluh meter ini. Sia-sia. Yoan telah sampai. Dia menang.

            "Yeyeye ... Kak Lusi yang beli es kelapa muda," teriak Yoan bangga. Aku masih ngos-ngosan di hadapannya.

            "Ah, kalau Kakak yang menang juga kamu nggak bakal beli sendiri." Timpalku seraya mencubit pipinya yang chubby itu.

            "Tapi setidaknya sekarang aku nggak perlu ikut beli, kan?"

            "Memangnya bocah cilik ini berani sendirian tanpa Kakak cantiknya?" kataku dengan tampang seolah berbicara sendiri.

            "Yoan juga ganteng kan, Kak?"

            "Iya deh. Tapi beneran berani nih?"

            "Berani donk! Aku mau bermain sama pasir. Wlee …" Yoan berlari ke arah tumpukan pasir. Aku masih berdiri memandangnya seraya berdecak.

Sepulangnya aku dari membeli es kelapa, aku menghampiri Yoan. Aku berdiri di sampingnya. Menunggunya yang tengah menulis di atas pasir.

            "Pada akhirnya, semua yang telah aku gambar di atas pasir akan sirna tersapu ombak. Bahkan tak perlu menunggu besok, hanya dalam menit saja," ucap Yoan memberitahu, sedang dirinya sendiri masih asyik dengan ranting-ranting itu. Yoan masih dengan hikmad menggambar orang-orang di atas pasir.

            Aku ingat, dulu ketika keluarga kami masih lengkap. Dalam artian ibu masih ada. Setiap libur panjang kami selalu datang ke pantai ini. Bermain di pantai. Lantas Yoan menggambar wajah kami sebisanya. Ada empat orang dulu.

            Lambat laun ketika ibu telah meninggal, Yoan hanya menggambar tiga orang yang tentunya milikku, Yoan, dan ayah.

            Tapi sekarang ... Aku terbelalak melihat apa yang Yoan gambar. Ia hanya menggambar dua orang. Siapakah yang menghilang di antara kami –aku, ayah, dan Yoan--?
           
            "Kak, Yoan minta es kelapanya lagi," pinta Yoan membuyarkan lamunanku.

Mei 2012

            "Permisi. Andakah puteri nahkoda Adan?" seseorang berseragam tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

            Aku menoleh, "Iya, Pak." Jawabku sontak.

            "Bisakah ikut saya ke posko?"

            Aku melirik Yoan lama lantas kembali menoleh ke orang itu.

            "Nanti saya ke sana, Pak, bersama adik saya ini." Jawabku. Orang itu tampak keheranan mendengar jawabanku. Pun beberapa orang. Ah, pandangan keheranan itu ... Aku benci!

            "Baiklah." Orang itu pergi. Aku berjongkok, menyejajarkan wajahku dengan wajah Yoan.

            "Yoan, dingin ya? Kita ke posko yuk?" tawarku pada Yoan yang masih bersama asyiknya.

            "Posko?" tatapan kami bertemu.

            "Iya itu," jari telunjukku menunjuk pada tenda berwarna kuning. Di sana adalah tempat penampungan para korban.

            Kami berjalan ke arah posko. Pada perjalanan yang hanya beberapa meter ini kakiku terasa berat sekali melangkah. Kepalaku pusing yang entah kenapa. Aku melirik ke barat. Matahari tersenyum pahit. Ombak besar masih melumati bibir pantai.

            Lima meter dari depan posko, aku melihat ayah.

            “Itu ayah basah kuyup, Yo.” Aku dan Yoan berlari menuju ayah. Kami khawatir.

            “Lusi, maafkan ayah.” Ucap ayah ketika aku baru saja sampai di hadapannya.
           
“Maaf kenapa, Yah?

“Ayah tidak bisa menemukan dia.” Ayah memlukku erat.

            “Dia siapa?”

            “Yoan.” Aku melepas pelukannya.

            “Memang Yoan kenapa? Dia bersamaku kok.”Jawabku seraya menoleh ke arah Yoan. Ternyata Yoan tidak ada. Padahal tadi dia kugandeng, namun mengapa hanya ranting-ranting yang kugenggam?

“Yoan kemana? Tadi dia bersamaku kok, Yah.”
           
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari Yoan yang tadi ikut kesini bersamaku, dan nihil.
           
“Lusi, sadarlah, Nak. Yoan sudah tidak ada. Kemarin ombak telah merenggutnya dari kita, Lusi. Sadar, Nak. Jangan seperti ini!” teriak Ayah sembari menggoyang-goyang pundakku.
           
Mataku melayang. Tubuhku limbung. Sebelum aku tak sadar spenuhnya, aku melihat anak kecil itu tengah tersenyum melambaikan tangan di tengah laut, []

SELESAI
Rawaheng, 28 Mei 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages