Komentarku pada postingan sebuah fanbase seorang penyanyi muda yang saat
ini sedang naik daun menuai kontroversi. Padahal tuh komentar cuma
berisi satu kalimat, dan sejauh ini aku sama sekali belum nemu salahnya
komentarku (mana bisa nemu).
Sejak komentar itu diluncurkan sampai sekitar sepuluh menit lalu,
ada lima orang me-reply. Semuanya kontra. Aku sih nggak bisa secara
lengkap membaca balasan mereka karena ketika aku buka, komentar mereka
sudah tenggelam oleh komentar-komentar yang lain (kan lagi
hangat-hanganya tuh penyanyi jadi idola). Tapi beberapa kata mereka yang
muncul di notifications sudah cukup kok mengindikasikan respon mereka
terhadap komentarku yang intinya ialah ..., kontra.
Mungkin menurut mereka komentarku terlalu kejam kali ya. Kalo boleh
jujur aku emang orangnya agak kejam untuk sebuah isi hati. Kebanyakan
orang di dunia nyata mungkin mengenalku sebagai sosok 'pendiam'. Heuh,
tapi itu sama sekali bukan aku! Aku yang asli ialah amat periang dan
suka lelucon. Mereka yang kudiami dan kubaiki biasanya bukan orang yang
kepada mereka aku nyaman. Ya, merekalah yang memaksaku bersikap demikian
sebab mereka belum mampu menerima apa adanya diriku.~
Aku jadi teringat pada hari kemarin nih. Pada siang bolong di hari
Jumat seorang teman bercerita mengenai respon dua orang laki-laki
berumur terhadap sebuah kesalahan kecil yang tanpa sengaja dia lakukan
kemarin. Kesalahan kecil itu tidak bisa aku tuliskan di sini. Intinya,
mereka menghubung-hubungkan kesalahan itu dengan *k**ta*si*. Sebagai
anak *k**ta*si, jelas dia gela. Aku yang mendengarnya pun gela bukan
kepalang. Dadaku panas mendengar ceritanya sampai akhir. Yang aku
sayangkan, kenapa dia diam saja dibegitukan? Padahal jika aku jadi dia,
aku pasti akan berucap "Leh, manusia ya luput" atau apalah yang intinya
menunjukkan bahwa aku tidak terima!
Besok Senin ialah giliranku mengikuti seorang 'berumur'. Apakah aku
akan bernasib sama seperti temanku? Tapi sungguh jika begitu aku tidak
akan diam saja. Meski hanya sekelumit kata pasti akan aku jawal. Dampak
negatif tak pernah kupikirkan walau itu berbunyi aku harus keluar
sekalipun! Bagiku, harga diri itu perlu diperjuangkan! Apalagi jika
membawa nama '*k**ta*si' yang jelas akan bersangkut dengan *e*o*a*ku.
Aku tidak akan terima!
Memang inilah aku dengan segala sisi negatifku. Mungkin orang nggak
banyak yang nyangka kalo aku bisa jadi kejam dan frontal memperjuangkan
isi hati yang benar-benar ingin diperjuangkan dan harga diri yang juga
benar-benar ingin diperjuangkan.
Benar, meski terlihat lemah dalam banyak hal, tapi aku tidak akan
membiarkan orang-orang menginjak-injak martabatku. Terkadang aku memang
sengaja mengalah, tapi itu bukan untuk kebahagiaan orang-orang yang
'akhirnya' menang. Semata-mata hanya karena aku tidak ingin sebuah
masalah berlanjut hingga kata-kata kotor keluar dari mulutku. Karena
jika itu terjadi, tandanya aku sedang berada di puncak kemarahan!
I'll respect you if you respect me!
#tulisaninidiketikdenganemosi
Kamar Kuning, 29-06-2013:21.17 WIB