Categories

Senin, 22 Juli 2013

Pagi: Dua Suara dari Balik Pintu


Oleh Riska Nur Sagita

            Miris Pintu meringis. Pada bulan Ramadhan ini, dua buah suara dari balik depan-belakangnya beradu lantang setiap pagi. Suara yang memiliki arti bahkan berseberangan. Tapi tentunya Pintu lebih ingin mendengarkan suara dari belakang, namun apa daya? Wajahnya kan utuh menghadap ke depan, kecuali jika Pintu ditepikan sebagai tanda ‘boleh masuk’.
            Pelataran luas masjid At-Taqwa dipenuhi oleh bocah-bocah usia sekolah yang kebanyakan ialah laki-laki. Selepas meraupkan tangan ke wajah sebagai tanda usai salat subuh tadi mereka semua memang gegas menuju halaman masjid. Bukan untuk menyaksikan secara langsung terbitnya matahari bulan Ramadhan, melainkan untuk bermain-main. Keseluruhan mereka berlomba paling keras meledakkan mercon yang tentu sebelumnya telah mereka selipkan di balik kantong celana secara diam-diam supaya tidak ketahuan ibu. Orangtua akhirnya tak kuasa melarang, karena hal ini memang menjadi kesenangan sendiri bagi anak-anak mereka di bulan Ramadhan.
            Duaarrr … Duaaarrr …
            Lapangan masjid bergetar. Anak-anak penabuh tertawa. Sebagian anak perempuan menjerit-jerit ketakutan, dan itu ialah memang hasil yang anak laki-laki harapkan. Suasana di depan Pintu yang cukup ramai dan sedikit lucu.
            A’udzubillaahiminassyaitoonirrojiim … Bismillaahirrahmaanirrahiim …

Minggu, 14 Juli 2013

-_-"

Komentarku pada postingan sebuah fanbase seorang penyanyi muda yang saat ini sedang naik daun menuai kontroversi. Padahal tuh komentar cuma berisi satu kalimat, dan sejauh ini aku sama sekali belum nemu salahnya komentarku (mana bisa nemu).

Sejak komentar itu diluncurkan sampai sekitar sepuluh menit lalu, ada lima orang me-reply. Semuanya kontra. Aku sih nggak bisa secara lengkap membaca balasan mereka karena ketika aku buka, komentar mereka sudah tenggelam oleh komentar-komentar yang lain (kan lagi hangat-hanganya tuh penyanyi jadi idola). Tapi beberapa kata mereka yang muncul di notifications sudah cukup kok mengindikasikan respon mereka terhadap komentarku yang intinya ialah ..., kontra.

Mungkin menurut mereka komentarku terlalu kejam kali ya. Kalo boleh jujur aku emang orangnya agak kejam untuk sebuah isi hati. Kebanyakan orang di dunia nyata mungkin mengenalku sebagai sosok 'pendiam'. Heuh, tapi itu sama sekali bukan aku! Aku yang asli ialah amat periang dan suka lelucon. Mereka yang kudiami dan kubaiki biasanya bukan orang yang kepada mereka aku nyaman. Ya, merekalah yang memaksaku bersikap demikian sebab mereka belum mampu menerima apa adanya diriku.~

Aku jadi teringat pada hari kemarin nih. Pada siang bolong di hari Jumat seorang teman bercerita mengenai respon dua orang laki-laki berumur terhadap sebuah kesalahan kecil yang tanpa sengaja dia lakukan kemarin. Kesalahan kecil itu tidak bisa aku tuliskan di sini. Intinya, mereka menghubung-hubungkan kesalahan itu dengan *k**ta*si*. Sebagai anak *k**ta*si, jelas dia gela. Aku yang mendengarnya pun gela bukan kepalang. Dadaku panas mendengar ceritanya sampai akhir. Yang aku sayangkan, kenapa dia diam saja dibegitukan? Padahal jika aku jadi dia, aku pasti akan berucap "Leh, manusia ya luput" atau apalah yang intinya menunjukkan bahwa aku tidak terima!

Besok Senin ialah giliranku mengikuti seorang 'berumur'. Apakah aku akan bernasib sama seperti temanku? Tapi sungguh jika begitu aku tidak akan diam saja. Meski hanya sekelumit kata pasti akan aku jawal. Dampak negatif tak pernah kupikirkan walau itu berbunyi aku harus keluar sekalipun! Bagiku, harga diri itu perlu diperjuangkan! Apalagi jika membawa nama '*k**ta*si' yang jelas akan bersangkut dengan *e*o*a*ku. Aku tidak akan terima!

Memang inilah aku dengan segala sisi negatifku. Mungkin orang nggak banyak yang nyangka kalo aku bisa jadi kejam dan frontal memperjuangkan isi hati yang benar-benar ingin diperjuangkan dan harga diri yang juga benar-benar ingin diperjuangkan.

Benar, meski terlihat lemah dalam banyak hal, tapi aku tidak akan membiarkan orang-orang menginjak-injak martabatku. Terkadang aku memang sengaja mengalah, tapi itu bukan untuk kebahagiaan orang-orang yang 'akhirnya' menang. Semata-mata hanya karena aku tidak ingin sebuah masalah berlanjut hingga kata-kata kotor keluar dari mulutku. Karena jika itu terjadi, tandanya aku sedang berada di puncak kemarahan!

I'll respect you if you respect me!

#tulisaninidiketikdenganemosi
Kamar Kuning, 29-06-2013:21.17 WIB

Wanita Haid Membaca Alquran, Bolehkah?

Beberapa waktu lalu saya terlibat sedikit perdebatan dengan seorang teman. Pokok permasalahannya ialah: bolehkah wanita haid membaca alquran? Teman saya bersikeukeuh tidak, yang diperbolehkan hanya menghapalnya. Sementara saya berpendapat boleh asalkan tidak menyentuh mushaf karena ketika mengikuti ekskul tilawah saya juga membaca alquran dan tidak menyentuhnya. Ragu, saya akhirnya memutuskan untuk googling. Berikut hasilnya dari http://belajarmembacaalquran.com/hukum-wanita-haid-membaca-al-quran/ dengan sedikit pengeditan.

Para Ulama besar memiliki pendapat yang berbeda mengenai Hukum wanita haid dalam membaca Al-Quran. Ada pendapat Ulama yang mengatakan bagi wanita yang sedang haid diperbolehkan membaca Al-Quran karena belum diketahui secara pasti dalil shahih yang melarang.
Ada dalil dan hadist dari sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa wanita yang sedang menstruasi diperbolehkan membaca Al-Quran dan kemudian hendak melaksanakan ibadah Umrah akan tetapi sedang dalam masa menstruasi :
 

Kamu dan Dia: Sedekat Apa?

Kamu dan Dia: Sedekat Apa?
Oleh Riska Nur Sagita

Kamu pernah bertanya kepada dia tentang apa bedanya 'friendship', 'close friend', dan 'best friend'.

Dan kamu tersenyum ketika dia menjawab: friendship itu persahabatan, close friend itu teman dekat, dan best friend itu sahabat terbaik. Meskipun, bukan jawaban seperti itu yang kamu ingin. Ada yang lebih, sebab yang dia jawab itu menurut kamu bukanlah perbedaan, tetapi arti. Seharusnya dia bisa menjabarkan bedanya, kata kamu dalam hati. Tetapi dia mungkin terlalu malas bersuara.

Kamu tetap tersenyum lalu kembali bertanya polos, "Lalu, kita yang mana?"

Itu adalah inti pertanyaan kamu sebenarnya. Ya, kamu ingin mengerti berada pada level mana kamu di hatinya. Menurut kamu, di antara tiga tadi, yang paling tinggi kedudukannya adalah best friend. Kamu ingin dia menjawab 'sahabat terbaik' atau 'best friend' atas pertanyaan kamu.

Namun dia tidak menjawab. Lama, sampai kamu ragu bahwa dia masih berada di sampingmu. Hingga beberapa menit kemudian perlahan bibirnya mulai bergerak sambil wajahnya menoleh ke arah kamu, "Kamu cukup close friend buatku," ujar dia.

Kamu tersenyum. Ngenes. Kecewa. Cuma close friend? tanya kamu dalam hati. Ya, menurut kamu itu belum cukup karena kamu mengartikannya dengan arti sebenarnya. Tetapi asal kamu tahu, dia berbeda pikir dengan kamu. Maksud dia, teman dekat itu sama dengan ... [*]

Kamu dan Dia: Tentang Harapan

Kamu dan Dia: Tentang Harapan
Oleh Riska Nur Sagita

Harapan.

Harapan itu apa sih? tanya dia.

Seperti bayi dalam rahim ibu, kah? sambung dia.

Atau, meliuk janur di pelataran rumah? jawab kamu, menambah dia dengan bingung.

Harapan itu ya harapan, putus kamu.

Harapan ya harapan? ulang dia, masih bingung.

Kamu tak menjawab. Pun dia diam. Kalian diam. Bertanya pada pikiran masing-masing mengenai ha-ra-pan.

Lalu tiba-tiba kamu meraih kedua tangan dia, menatap mata dia. Dia bingung saat kamu mengembuskan napas kamu di depan wajah dia sambil berbisik pelan, "Harapan itu ... seperti akhir tulisan tempat kita ada."

Dear FZ

Saya mengenalmu beberapa bulan lalu lewat status teman facebook. Yang membuat saya tertarik ialah pernyataan teman saya bahwa kamu bisa membawa siapapun berkeliling dunia dengan cuma-cuma.

Kamu tahu? Awalnya saya tidak percaya dengan itu, tetapi lantas saya mencoba membuktikannya. Kita berkenalan, FZ. Kita berkenalan! Ya, saya duluan yang menawari berkenalan. Saya masih ingat, dalam perkenalan itu, kamu meminta dua data diri saya: nama dan kondisi hati saya. Sedikit aneh memang, tetapi saya turuti.

Lalu beberapa waktu setelah kamu mengonfirmasi perkenalan saya, kita menjadi akrab, dan semuanya terbukti! Kamu benar-benar siap sedia membawa saya berkeliling dunia dengan pesonamu secara gratis! Yang ada di pikiran saya cuma dua tanda tanya: Kenapa kamu bisa sebaik itu sih, FZ? Padahal, kita belum lama berkenalan, kan?

Kamu tahu, FZ? Sejak mengenalmu, hari-hari saya selalu diliputi warna-warni. Satu hari saja saya tidak menyapamu, rasanya ada yang ganjil dan perasaan bersalah muncul selalu tiba-tiba. Karena kamu terlalu dan selalu baik, jadi saya tidak enak. Kamu bahkan selalu rela menghabiskan waktumu berjam-jam hanya untuk mengajari saya banyak hal, selain mengajak keliling dunia tentunya. Yang masih saya ingat ialah kamu mengajari saya memakai jilbab dengan tutorial (meski kamu bukan perempuan), mengajari cara mengerjakan soal hipotik dan obligasi, bahkan mengajari cara membuat singkong keju terbaik! Saat itu saya berpikir bahwa kamu benar-benar multitalent, FZ! Luar biasa!

Perbandingan

Dulu,

Gue suka banget nyari-nyari info lomba nulis yang diadakan oleh forum-forum tertentu ataupun perorangan. Yang iming-imingnya si para juara bakal dihadiahi duit atau paket buku, sementara sejumlah kontributor yang kepilih dijanjikan terbit karyanya. Ya, ini adalah impian gue. Nggak muluk, cuma TERBIT KARYANYA.

Gue iri banget sama temen-temen yang udah nerbitin banyak karya. Bahkan di antaranya udah dua puluhan lebih. Ya, meskipun mungkin kebanyakan cuma terbit di indie. Tetapi, kan, lihat tulisan sendiri dicetak dalam sebuah buku keroyokan itu juga nyenengin banget tahu! Apalagi kalau jumlahnya sampe nggak kehitung jari. Gue pengin! Makanya, di samping nyari info lomba nulis, gue juga selalu coba ngejar lomba itu, bahkan sampe yang berbayar.

Ada yang tahu lagu ini?

Oke, ceritanya udah lama banget nih gue suka lagu ini. Gue denger pertama kali pas SD. Waktu itu ada temen gue yang mau ikut lomba nyanyi, terus dia diajarin sama Bu Mukti--guru pendamping--nyanyi lagu ini. Karena lagunya lumayan bagus, akhirnya banyak yang suka nyanyiin (meski nggak ikut lomba) dan nyebar-nyebar, terus nyampe deh ke telinga gue.

Lama banget gue nggak inget tuh lagu lagi seiring banyaknya lagu bagus yang lahir dari rahim para musisi anyar. Nah, beberapa menit lalu gue tiba-tiba inget tuh lagu. Gue coba nyanyi, eh tapi gue lupa liriknya. -_- Iseng-iseng gue googling dengan kata kunci sebagian lirik yang gue hapal. Ternyata gue nemu! Di http://rastine-smagaz.blogspot.com . Lirik lagunya ada, tetapi yang ngepost kagak tahu tuh lagu ciptaan siapa. Yaahhh ... Padahal gue berharap banget bisa tahu siapa yang ciptain lagu se-syahdu itu. Ajaibnya, yang ngepost juga katanya denger lagu ini pas jaman SD pas ada temennya mau ikut lomba nyanyi. Samaan donk sama gue.

Karena penasaran, gue runutin 31 komentar di postingan itu. Eh, terus gue baca di salah satu komentar ada yang tahu siapa pencipta tuh lagu. Penciptanya Bang Syafii Embut katanya. Gue sih belum pernah denger tuh nama. Tapi habis tuh gue googling lagi kata kunci Syafii Embut. Ternyata ada MP3-nya! Dan berarti bener kalo beliau yang ciptain tuh lagu. Gue niat mau download ah suatu hari entar.

Oke deh, siapa tahu lu lu juga pada penasaran lagu apa sih yang udah bikin gue sampai nge-note gini. Siapa tahu juga lu tahu lagu ini kayak gue dari SD. Nih nih lirik lagunya~


Sabtu, 13 Juli 2013

Menilai Nilai



Nilai.
Apa sih nilai? Banyak sekali definisinya. Namun kali ini yang ingin saya catat adalah nilai yang memiliki arti: tulisan berupa angka yang pada bentuk-bentuk tertentu membuat kita senang dan pada bentuk yang lain membuat kita kecewa, kesal, sedih, bahkan menyalahkan.

Untuk mengelompokkan nilai mana yang membuat senang dan mana yang membuat kecewa juga relatif sekali. Ada orang yang sudah senang ketika mendapat nilai 8. Namun, ada juga yang masih kecewa ketika mendapat nilai 8. Tergantung KKM yang ditanam dalam pikiran, mungkin. Tetapi kalau saya sendiri sih tidak ada KKM.

Bicara nilai agaknya tidak bisa dijauhkan dari yang namanya 'tujuan ke sekolah'. Dalam teori, jika seseorang ditanya: apa tujuanmu berangkat ke sekolah? Kebanyakan mereka menjawab: menuntut ilmu. Namun bisa dipastikan, entah hanya secuil atau memang prioritas, mereka memiliki tujuan lain yakni mencari 'nilai'. Nilai yang baik tentunya. Hal ini bisa dibuktikan di lapangan bahwa ketika tugas yang Z (misalnya) garap sendiri dikoreksi, dan seharusnya mendapat nilai 98, sementara yang mengoreksi keliru menjadi 97, dia marah besar. Ini bisa jadi tanda bahwa nilai itu penting sekali baginya. 

Pages