Cerpen Hisham Yusuf El Filistiny (
Republika, 8 April 2012)
JAM mendekati tujuh pagi, ketika ia berhenti di akhir
antrean, dan mengamati dengan seksama barisan panjang orang-orang antre
yang berkelok-kelok seperti ular. Segera ia tahu bahwa ia datang sangat
terlambat. Wajah orang-orang yang antre tampak sendu, seolah mereka
telah tua sebelum masanya. Sebagian mereka saling bertukar pembicaraan
sehingga menggariskan guratan-guratan tertentu pada wajah mereka.
Semua memandang ke arah pintu yang dikunci dengan kawat berduri dari
segala sisinya. Mereka menumpahkan kemarahan lewat sorot mata ke arah
pintu laknat itu. Mereka berharap pintu itu cepat dibuka sehingga
antrean yang terus bertambah panjang seiring bergeraknya jarum jam itu
terkurangi.
Pada jam delapan, datang dua tentara berhenti di depan pintu.
Wajah-wajah putus asa itu sedikit cerah, merasa jalan keluar itu
mendekat. Dengan gerakan tanpa sadar, ia mengeluarkan sigaret dari
sakunya. Ia menyalakan rokok kemudian mengembuskan asapnya, seolah ia
berpesta dengan datangnya dua tentara Israel itu.