Categories

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rawaheng

Pasca hari raya idul fitri, di desaku ada fenomena unik yang dibikin sendiri oleh sebagian warganya. Ia adalah, banyak orang serempak menggelar hajatan.
Seperti hari ini saja, baru dua hari Ramadhan pamit, empat kepala kompak membangun tenda besar di depan rumah mereka dalam rangka; ada yang pernikahan, ada yang khitan. Sempurnalah kemana-mana kupingku nangkep lagu-lagu campursari, sebagai cirri khas ketika suatu hajatan dihelat. Belum lagi untuk besok, dan besoknya.

Jalan Lain

Cerpen Hisham Yusuf El Filistiny (Republika, 8 April 2012)

JAM mendekati tujuh pagi, ketika ia berhenti di akhir antrean, dan mengamati dengan seksama barisan panjang orang-orang antre yang berkelok-kelok seperti ular. Segera ia tahu bahwa ia datang sangat terlambat. Wajah orang-orang yang antre tampak sendu, seolah mereka telah tua sebelum masanya. Sebagian mereka saling bertukar pembicaraan sehingga menggariskan guratan-guratan tertentu pada wajah mereka.
Semua memandang ke arah pintu yang dikunci dengan kawat berduri dari segala sisinya. Mereka menumpahkan kemarahan lewat sorot mata ke arah pintu laknat itu. Mereka berharap pintu itu cepat dibuka sehingga antrean yang terus bertambah panjang seiring bergeraknya jarum jam itu terkurangi.
Pada jam delapan, datang dua tentara berhenti di depan pintu. Wajah-wajah putus asa itu sedikit cerah, merasa jalan keluar itu mendekat. Dengan gerakan tanpa sadar, ia mengeluarkan sigaret dari sakunya. Ia menyalakan rokok kemudian mengembuskan asapnya, seolah ia berpesta dengan datangnya dua tentara Israel itu.

Pak Sobirin, Guru Mengaji

Oleh Bamby Cahyadi

SETELAH tabrakan hebat tadi siang, kurasa aku telah mati. Apa yang bisa kau lakukan saat berada di alam kematianmu? Tentu, jawabannya tak ada yang tahu. Begitupun aku. Aku tak tahu apakah sekarang telah berada di alam kematian itu atau sekadar pingsan. Hanya gelap yang bisa kusaksikan. Ingin sekali ada malaikat yang datang padaku. Tak peduli ia malaikat pencabut nyawa, malaikat penjaga pintu surga atau neraka, yang penting ia malaikat. Setidaknya, tubuh malaikat yang bersayap dan terang benderang segera memadamkan kegelapan yang tak berujung ini. Bukankah malaikat diciptakan Tuhan dari cahaya?
Atau, mungkin bayangan-bayangan hitam pekat berkelebat-kelebat yang datang mengunjungiku, aku tak keberatan. Konon, katanya, mereka itu roh-roh penasaran yang tidak diterima neraka, apalagi surga. Boleh juga bertemu ayah! Seharusnya, aku dan ayah bisa bertemu. Bukankah saat ini aku adalah roh gentayangan yang tak kunjung menemui pintu masuk ke jasadku. Jadi, menurutku, seharusnya ayah yang telah meninggal lebih dulu saat aku remaja bisa menemuiku.

Mimpi Stefani

Oleh Bamby Cahyadi (Media Indonesia, 3 Februari 2013)


SELEPAS mimpi buruk, ia bagai terdampar di pulau paling sunyi. Beberapa serpihan adegan mimpi masih tersisa di pelupuk matanya. Stefani kedinginan. Tentu saja, karena ia tidur tanpa busana. Tubuhnya hanya ditutupi selimut tebal. Selimut hangat yang tiba-tiba jatuh ke lantai membuat ia terbangun. Masih terperangkap dalam ingatannya, suara-suara pedang beradu, bunyi sepatu berderap di lorong-lorong, tawa yang menyerupai lolongan iblis kejam dan bunyi kepala terpenggal, lalu menggelinding di lantai.
Stefani bersedekap, mencengkeram selimut dan menyambarnya sampai ke dagu, mencoba membuat dirinya tetap hangat dan tenang. Ia menatap langit-langit kamar. Sesaat kemudian, ia memijat tengkuknya sendiri.

Persembunyian Terakhir

Oleh Riska Nur Sagita

              Suatu malam dia pernah datang mengendap-endap ke rumahku. Tatkala aku membukakan pintu dan terbelalak kaget, dia membekap mulutku hingga aku menyerah—mengangguk diam. Kemudian, buru-buru dia masuk setelah sibuk menoleh ke kanan-kiri-belakang, memastikan tidak ada orang barangkali.
            “Aku sedang bersembunyi.” Dia melepas sepasang sepatu putihnya yang kini berubah belang, lalu mendongak ke arahku yang membawakan secangkir teh untuknya.
            “Memang itu hobimu,” kataku seraya meloloskan cangkir ke meja.
            “Tapi kali ini lain.” Dia meraih cangkir teh hangatnya.

Yang Penting Berani Dulu

Hidup itu ternyata nggak gampang.

Buat yang mikir kalo hidup itu mudah, hidup itu sederhana, itu karena hidup kalian masih bergantung sama ortu, bener nggak? Coba deh kalian tengok orang tua kalian,tanya mereka, apa hidup itu mudah? Tentu mereka jauuuhhhh lebih berpengalaman dari kita, dan jawabannya ya pasti tentang pengalaman-pengalaman itu. Kegagalan, kecewa, itu nggak jarang mampir di perjalanan hidup (mereka), dan itu nggak mudah buat dilewati. Cuma karena sekarang kita masih dituntun ortu, semua beban pun masih ortu yang nanggung, so, kita fain fain aja dan bilang hidup itu mudah.

Jumat, 09 Agustus 2013

Menunggu Habibie

Hari ini mamaku semangat banget nonton teve. Sejak pagi tadi pandangan mata beliau nggak lepas dari layar teve, meski sempat sih mbersihin halaman rumah, ke warung, dan beribadah. Tapi emang depan teve adalah markas beliau, jadi kemanapun pergi pada akhirnya akan kembali ke situ juga.

 “Mau nonton habibi,” kata mama.

Kamis, 08 Agustus 2013

Maafkan aku, Ramadhan

Ramadhan melambaikan kuning senja terakhirnya. Sekumpulan burung sore penuh hati mengantarkannya kepada gerbang perjalanan. Aku, duduk beratapkan dedaun pohon trembesi dililit hujan penutup hari, memandang Ramadhan yang mengangguk ikhlas akan menempuh perjalanan untuk kembali lagi kepada kita tatkala angka tiga menetas. Selamat jalan, Ramadhan. Sampai Jumpa.
*                                      

Mantan (Pacar) sama dengan Barang Bekas?

            Pernah mendengar atau membaca kata-kata begini, ‘mantan (pacar) itu cuma barang bekas, jadi dikasihkan saja ke yang membutuhkan’? Oww … ow … Pernah, tidak? Malah sering? Menurutmu, kejam banget tidak tuh kata-katanya? Haha. Jujur saja nih ya, kalau aku sih agak setuju dengan istilah itu ya. *peace*
            Mantan oh mantan (pacar). Sering aku membaca status facebook berisi kata-kata seperti di atas. Saat itu aku sih tidak meng-klik ‘komentar’ ataupun ‘suka’ meski sebenarnya sangat prihatin pada kata-katanya. Yang aku pikir cuma mungkin emosi si empunya status pada seseorang yang dia sebut sebagai mantan (pacar) sedang berada pada titik kulminasi *sotoy*, jadi biarlah. Hanya kemudian aku sedikit memutar otakku diam-diam.

Rindu Facebook :3

Sejak jalan 0.facebook diblokir secara sadis oleh Telkomsel, saya jadi kesulitan menemukan akses masuk menuju jejaring social berlogo biru tua itu. Ada sih jalan lain, m.facebook misalnya. Namun tidak seperti 0.facebook yang selalu ‘puasa’, m.facebook doyan sekali makan pulsa saya sedikitnya dua hari tiga ribu rupiah untuk 12 MB. Memang sih keuntungannya saya bisa melihat image, tapi sebenarnya saya tidak terlalu butuh fasilitas gambar itu.

Salam Tempel untuk Anak Kecil


Teman-teman Blogger, pernahkan Anda mendapati dua orang yang berjabat-tangan dimana salah satu di antara mereka sekalian mengangsurkan selembar uang kepada lawan jabat-tangannya? Tanpa mengulangi bersentuhan tangan, lalu mereka tertawa dan yang dikasih mengucap terima kasih. Yang demikian itu dinamakan salam tempel.
Salam tempel. Salam tempel biasanya banyak didapati pada tempat-tempat hajatan dan akan lebih banyak lagi ketika hari yang fitri tiba, seperti hari ini. Salam tempel biasanya melibatkan anak-anak kecil dimana hal ini menjadi alasan kuat mereka untuk bersilaturahim. 

Rabu, 07 Agustus 2013

Malam Lebaran


—Kakak, saat ini ialah malam fitri pertama yang akan aku lewati tanpa dirimu—

Malam ini, mereka menghias langit dengan payung-payung kembang api lagi. Sama seperti ramadhan-ramadhan yang lalu ...,

Kakak, dari sudut kamar kuningku, telingaku bisa menangkap letusan semerbak itu. Letusan yang membuatku meringis dan tanganku serempak menyumbat telinga ketika yang lain bersorak bahagia. Percikan warna kembang api sempat selalu mampir di jendela kamarku. Menyapaku, seolah mengajak keluar. Aku pikir kembang api merindukanku, Kakak.

Pages